Translate

Wednesday, April 3, 2013

Books "DAUGHTER OF HEAVEN"



Books “PUTRI LANGIT”
Judul Asli : DAUGHTER OF HEAVEN : The True Story of the Only Woman to Become Emperor of China
Copyright ©  2007 Nigel Cawthorne
Penerbit Serambi Ilmu Semesta
Alih Bahasa : Fahmy Yamani
Editor : Dian Pranasari & M. Sidik Nugraha
Cetakan I : Januari 2013 ; 380 hlm 

Emperor Wu adalah salah satu kaisar wanita ternama dalam sejarah Kerajaan China. Nama serta sepak terjang beliau telah diadaptasikan dalam berbagai kisah serta versi novel yang berbeda-beda. Mulai dari perjalanan hidupnya sebagai bocah cilik hingga diambil sebagai salah satu selir Kaisar Langit, yang berbuntut pada konflik serta intrik di dalam Istana, perebutan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, termasuk membunuh para saingan yang merupakan anggota keluarga sendiri. Emperor Wu digambarkan sebagai gadis belia yang direnggut kebebasan dan kebahagiaannya dan disekap dalam kurungan Istana Kaisar Langi yang mewah. Namun ia juga digambarkan sebagai salah satu penguasa yang memerintah dengan tangan besi dan menuntut loyalitas tinggi dari siapa pun, menghukum semua pihak yang berani menentangnya dan memberi ganjaran pada orang-orang yang setia kepadanya. Berbagai pendapat serta versi tentang sosok ini bisa ditemui, namun satu hal yang pasti, nama beliau dikenal hingga berabad-abad kemudian karena pencapaian yang diraih selama masa pemerintahannya. Prestasi yang diraihnya bahkan melampaui pemerintahan Kaisar-Kaisar terdahulu yang merupakan sosok pria – sang Putra Langit yang dipuja oleh masyarakat China. Pemahaman bahwa seorang wanita tak memiliki kekuatan, keberanian, kepandaian bahkan kelebihan dibandingkan dengan seorang pria, telah dibuktikan salah besar oleh Emperor Wu.


~ Wu Ze Tian ~ [ source ]
Namun sejauh mana fakta sejarah mendukung penggambaran perwujudkan sosok wanita yang telah memegang tampuk pemerintahan negara yang usianya telah mencapai ratusan abad ?  Penulis mengajak pembaca untuk menelusuri perjalanan kehidupan suatu bangsa besar dan pemerintahan kuno dengan menggunakan benang merah sosok gadis yang dikenal sebagai Wu Chao sebelum ia menjadi selir serta Penguasa Kerajaan China yang membawa nama besar Dinasti T’ang. Dengan menggunakan gaya penuturan yang acapkali ‘mundur’ ke masa silam untuk mengetahui latar belakang kehidupan kedua orang tua Wu Chao serta kondisi pemerintahan sebelumnya, dikombinasi dengan kilasan masa depan, kemudian kembali pada periode dimana Wu Chao menjalani kehidupan barunya, sedikit membingungkan dan membutuhkan kesabaran dalam usaha mencapai gambaran besar apa dan bagaimana kisah ini akan berjalan. Sebagian besar penjelasan akan detail serta suasana Istana, lingkungan sekitar bahkan para pelaku yang berperan dalam menjalankan roda kehidupan di dalam Istana, mengundang daya tarik untuk disimak lebih lanjut. Penulis juga berusaha memberikan pemahaman akan filsafat kehidupan yang dijalani dan diyakini oleh masyarakat kuno China (yang masih juga dijalani oleh sebagian besar kalangan di masa modern ini), memberikan sajian fakta serta sejarah yang cukup akurat untuk berbagai tindakan ‘unik’ yang dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat China pada masa itu. 

Beberapa hal bukan hanya menarik dan mengundang senyuman, tetapi juga membawa pembaca untuk berhadapan langsung dengan berbagai problema yang terjadi. Misalnya mengapa Kaisar Langit yang dipandang sebagai junjungan serta penghubung rakyat kepada Penguasa Langit (catatan : yang dimaksud adalah Allah Pencipta. Karena agama belum masuk pada era tersebut maka keyakinan yang ada bercampur dengan mitos serta legenda) harus hidup panjang umur dengan memiliki satu permaisuri serta ribuan selir ? Mengapa hubungan seksual harus dilakukan dengan berbagai aturan yang ditentukan serta ‘disaksikan’ oleh para ahli untuk diteliti ?

“Pada musim semi, seorang pria hanya boleh berejakulasi setiap tiga hari; pada musim panas dan gugur, dua kali sebulan. Pada musim dingin, seorang pria sama sekali tidak boleh berejakulasi. Jalur surga adalah mempertahankan sebanyak-banyaknya ‘Yang’ pada musim dingin. Dengan demikian, seorang pria akan memperpanjang usianya. Setiap ejakulasi pada musim dingin seratus kali lebih berbahaya daripada sekali pada musim semi.” [ ajaran Guru Tao, Liu Ch’ang-an | p. 69 ]
[ source ]

Pemujaan terhadap sosok pria sebagai penguasa dan pemimpin dunia (catatan : dunia yang dikenal adalah bangsa China yang sangat besar serta telah menjadi penguasa bangsa-bangsa Asia lain yang dianggap lebih lemah, sedangkan bangsa Barat tidak terlalu dikenal dan dianggap sebagai makhluk ‘barbar’ atau tak berbudaya), menjadi kehidupan masyarakat China ditujukan demi kejayaan serta kemakmuran Kaisar Langit. Jika pemahaman bahwa hidup yang kita jalani harus berorientasi dan berpusat pada hal yang sama, yaitu sosok Kaisar, maka tak heran jika mulai pelayan rendahan hingga pejabat tinggi berusaha keras untuk ‘menyenangkan’ Kaisar. Semua ilmu, pengetahuan bahkan sebagian besar keyakinan (menempati posisi tertinggi sebelum akhirnya agama mulai masuk) didedikasikan bagi kesenangan sang Kaisar. Akibat perlakuan yang cenderung memanjakan dan memberikan kesenangan badani, bisa disimpulkan mengapa setelah mencapai usia berabad-abad, tokoh yang seharusnya kuat, berwibawa serta memiliki jiwa pemimpin, justru semakin lama semakin lemah dan mudah dikendalikan oleh oknum-oknum pemerintahan. Didukung dengan kehidupan sehari-hari yang dijalani, satu orang pria dikelilingi oleh ribuan wanita, pria yang diperbolehkan di dekatnya merupakan ‘kasim’ atau pria-pria yang telah dikebiri, dan kelainan kejiwaan sebagai dampak kehidupan aneh yang mereka jalani, seringkali memperngaruhi kehidupan para Kaisar beserta para selirnya.

~ Princess Tai-Ping ; daughter of Empress Wu ~ [ source ]
Lalu bagaimana jika penguasa tersebut digantikan oleh sosok seorang wanita ? Tentunya pedoman serta aturan lama tak dapat berfungsi secara sempurna. Gambaran tentang kehidupan Wu Chao yang sempat mengecap kenikmatan sebagai selir kesayangan sang Kaisar, hingga beliau wafat dan membuat dirinya harus menjadi janda terhormat, digunduli dan dipaksa menjalani kehidupan sebagai bikuni di biara pada usia 24 tahun, hingga ia dipanggil kembali untuk ‘menangani’ Kaisar Baru, dan sekali lagi melalui permainan serta intrik kotor, ia berhasil menaklukan ‘mantan anak tirinya’ yang kini menjadi Kaisar dengan nama Kao-tsung. Jika terjadi pada masa kini boleh jadi hal ini termasuk kategori ‘incest’ tetapi kehidupan di dalam Istana sendiri yang melarang penghuni di dalamnya untuk berbaur dengan penghuni diluar Istana, mengundang kehidupan nan aneh untuk dijalani. Hal ini juga tercermin dalam kehidupan kaum aristokrat Kerajaan jika kita simak lebih lanjut pada sejarah masa silam, baik itu di era kejayaan Kerajaan Romawi, Yunani, hingga Inggris.

“Di dunia ini, tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya dari Tujuh Perasaan dan Enam Hasrat. Tidak ada jalan keluar dari lingkaran fatal anggur, wanita, harta, dan ambisi ... Pengalaman menunjukkan bahwa dari keempat hal jahat ini, wanita dan harta mendatangkan malapetaka paling dahsyat.” [ p. 70 ]

Kembali ke topik semula, bahwa pemerintahan ‘boneka’ yang dijalankan oleh Wu Chao terhadap sang Kaisar Kao-tsung (yang digosipkan telah menjalin hubungan dengan Wu Chao semasa ia masih menjadi selir ayahnya), bagaimana ia secara perlahan namun pasti menyingkirkan oknum-oknum lama di posisi pemerintahan dan menggantikannya dengan orang-orang yang menjadi sekutunya, merubah tatanan serta peraturan yang telah menjadi tradisi turun temurun. Terlepas dari segala keburukan dan kejahatan yang dilakukan demi pembenaran kebijakan baru yang ia terapkan, Wu Chao berhasil memasukan pemikiran baru yang membawa perkembangan bangsa China ke masa yang lebih baru. Sayangnya tradisi serta pemikiran kuno masih bercokol sangat kuat, ditambah dengan cecaran pengaruh-pengaruh baru dari dunia Barat yang memiliki agenda tersendiri untuk meraup keuntungan dari kekayaan serta potensi dunia Asia.

[ source ]
Membaca kisah 'Daughter of Heaven', sama sekali berbeda dengan novel-novel fiksi denga  genre ‘historical-fiction’ – karena sang penulis menyajikan kumpulan hasil riset dari berbagai sumber, fakta-fakta sejarah tentang keberadaan sosok wanita adikuasa ini. Salah satu perbedaan nyata dan juga merupakan sedikit hambatan dalam proses menelaah bacaan ini, karena begitu banyaknya nara sumber sehingga sebuah topik bisa dibahas dalam beberapa artikel, alih-alih sebuah bacaan yang tercantum secara gamblang, maka bacaan ini mirip sebuah katalog. Dan yang membuat proses pembacaan juga lebih lama, penulis sering melakukan ‘over-lapping’ dengan sedikit berbelok pada hal yang berbeda saat membahas suatu topik, terkadang topiknya memang menarik, namun sering juga justru membingungkan. Terlepas dari segala macam fakta dan data-data sejarah yang diberikan, cukup banyak hal-hal baru yang disajikan yang menarik untuk disimak lebih dalam.

Sayangnya, karena penulis cenderung berpegang teguh pada fakta-fakta yang hendak disajikan, gaya penulisannya menjadi berkesan datar dan monoton pada sebagian besar kisah ini (kemungkinan terpengaruh pada bidang pekerjaannya sebagai jurnalis). Adapun judul yang diberikan ‘Daughter of Heaven’ merujuk pada sosok Wu Chao atau yang dikenal sebagai Emperor Wu, namun kisah ini lebih cocok dikatakan sebagai hasil riset serta fakta dari berbagai nara sumber berpusat pada kehidupan Dinasti T’ang (disertai sekilas info serta gambaran sebelum dan sesudah kejayaan Dinasti ini). Bagi para penggemar kisah sejarah Kerajaan China, kisah ini akan mengungkap fakta-fakta baru yang menarik, namun secara pribadi diriku berharap penulis memberikan kisah yang lebih dalam untuk mengungkap karakter serta kepribadian sosok Wu Chao. 

[ source ]
Tentang Penulis :
Nigel Cawthorne adalah penulis buku laris dengan karya-karya seperti The Empress of South America, Strange Laws of Old England, dan The Bamboo Cage : The Full Story of American Servicemen Still Held Hostage in Southeast Asia. Beliau juga menulis untuk New York Trib, Guardian, Daily Mail, Financial Times, Daily Telegraph, dan Observer serta telah tampil di CBS News, ABC, CNN, HBO, National Public Radio, BBC, dan Channel Four News, dan program Today di Radio Four dan sejumlah stasiun radio di seluruh dunia. Dilahirkan di Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1951, kini dia tinggal di London, Inggris.

[ more about the author and releted works, check on here : Nigel Cawthorne's Site | on Wikipedia | Empress Wu | Wu Ze Tian ]

Best Regards,


No comments :

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan dan komentar (no spam please), harap sabar jika tidak langsung muncul karena kolom ini menggunakan moderasi admin.
Thanks for visiting, your comment really appreciated \(^0^)/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...