Translate

Showing posts with label Ferenc Barnás. Show all posts
Showing posts with label Ferenc Barnás. Show all posts

Monday, March 18, 2013

Books "THE NINTH"



Books “ANAK KESEMBILAN”
Judul Asli : THE NINTH
Copyright © 2009 Ferenc Barnás
English translation copyright © Paul Olchváry
From Hongarian edition with title “A Kilencedik”
Translation from English edition by Saphira Zoelfikar
Editor from the original edition : Katalin Böszörményi Nagy
Indonesia edition published by PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor : Anwar Holid
Cover design by : Ariani Darmawan ; photos © by Paulo Costa
Cetakan I : Februari 2010 | 296 hlm | ISBN 978-979-22-5459-4
Rate : 3 of 5 

Ini adalah sebuah kisah tentang perjalanan kehidupan sehari-hari bocah berusia sembilan tahun, anak kesembilan dari sepuluh bersaudara sebuah keluarga kelas menengah ke bawah masyarakat Hongaria. Walaupun sang tokoh utama yang berperan sebagai narator adalah sosok bocah, ini bukanlah bacaan bagi anak-anak, karena berbagai perenungan serta pemikiran yang cukup unik serta sedikit lebih matang untuk anak-anak pada usia tersebut. Penulis membuat kisah ini bagai jurnal pribadi, tentang hasil pengamatan serta buah pikiran bocah yang hidup pada masa transisi peralihan kekuasaan serta politik yang melanda negar-negara Eropa, khususnya masyarakat Hongaria pada era Perang Dunia II.

Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu serta ke-sepuluh anaknya, hidup dalam kondisi sulit setelah sang suami / ayah, lepas dari ikatan dinas sebagai tentara, tanpa memiliki kemampuan serta keahlian khusus untuk mencari nafkah setelah perang usai. Dengan impian serta ambisi yang cukup tinggi, sang kepala keluarga akhirnya terpuruk dalam pekerjaan yang tak disukai, bergaul dengan sesama masyarakat kelas bawah, mengutuk pemerintah yang menghambat berbagai ‘kesuksesan’ yang diimpikan olehnya. Sang istri, wanita saleh yang memiliki kehalusan budi serta pemahaman akan seni serta keindahan, harus berjuang bekerja keras, mendampingi suami yang tak mau memahami dirinya, berjuang hari demi hari mengisi kekosongan jiwanya demi menyediakan makanan bagi keluarga. Anak-anak mereka sebagian besar ‘dipaksa’ tidak bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan telah diperkenalkan dengan dunia pekerjaan sedini mungkin. Makanan sehari-hari berupa roti dan bercangkir-cangkir teh adalah menu yang mengisi keseharian mereka, terkadang mereka bisa memperoleh kemewahan dengan adanya daging dalam menu, atau bisa juga hanya tersedia teh untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...