Translate

Monday, February 18, 2013

Books " A NOTE FROM ICHIYO"



Judul Asli : A NOTE FROM ICHIYO
Penulis : Rei Kimura
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Moch. Murdwinanto  
Cover by Mulyono
Cetakan ke-01 : Maret 2012 ; 280 hlm 

Saat melihat buku ini yang pertama menarik perhatian adalah covernya, dengan illustrasi desain bunga sakura dilatar belakangi foto mata uang kertas Jepang dengan sosok wanita di dalamnya … lebih mendekat, terpapar tulisan : “Catatan Ichiyo – Perempuan Miskin Di Lembar Uang Jepang”  - wah, semakin penasaran diriku dan segera membalik back-cover guna mengetahui sinopsisnya, ternyata kisahnya semakin menggugah keingin-tahuanku akan kebenaran isi bukunya …

Kisah dibuka pada saat sosok Ichiyo Higuchi bertahan dengan kondisi penyakitnya yang semakin parah, berlanjut dengan kondisi ‘flash-back’ kembali ke masa lalu, kisah tentang kedua orang tuanya, perjalanan hidup mereka hingga lahirlah anak-anak termasuk si cilik Natsuko yang di kemudian hari berganti nama menjadi Ichiyo. 

Yang cukup menyenangkan gaya penulisan yang digunakan menggunakan bahasa simple, bahasa sehari-hari dengan pengungkapan yang lugas, tanpa disertai gaya kuno yang terkadang terlalu panjang dan bertele-tele. Dengan menggunakan dialog serta berbagai percakapan, membuat pembaca seakan ‘menonton’ sebuah kisah drama di televisi, penggambaran suasana hati serta perasaan para karakter, semakin mempererat pemahaman kita akan kondisi serta situasi yang sedang terjadi.


Maka tidak mengherankan buku setebal 280 halaman ini mampu kuselesaikan dalam waktu yang sangat singkat namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Sungguh tidak mudah menghidupkan sosok kehidupan nyata dalam perjuangannya menghadapi tragedi hidup hingga berhak menyandang penghargaan yang mengisi sejarah bangsa Jepang. Sosok yang dalam kehidupan nyata hidup dalam kemiskinan yang merenggut nyawanya, hanya berbekal semangat tinggi yang  mampu membuatnya bertahan hingga menghasilkan karya-karya yang terus dikenang hingga kini. Dan masyarakat Jepang akan selalu mengingat perjuangannya lewat selembar uang kertas 5.000 Yen Jepang di mana wajah Ichiyo diabadikan. 

Diriku salut terhadap penulis, yang mampu merangkum perjalanan hidup sosok penting dalam sejarah  sebatas  300 halaman  - tanpa menimbulkan rasa bosan dan jenuh dalam pembacaan, atau justru sebaliknya, merasa tidak puas dengan hasil penulisan ( yang sering ku alami dengan novel-novel tipis, ide serta pengembangan karakter sudah bagus, tapi karena sangat singkat, dipaksakan selesai dengan ketidak-puasan pembaca )

Nah, sudahkah Anda siap menikmati kisah perjalanan hidup wanita mengagumkan, walau bukan ‘super-woman’ tapi sudah berani menentang adat istiadat kuno yang sangat meremehkan dan merendahkan kaum wanita. Luangkan waktu Anda untuk membaca kisah ini. Bukan novel yang masuk bestseller hingga cetak-ulang berkali-kali, bukan jenis novel romantis yang mendayu-dayu, bukan pula novel tentang kekejaman zaman hingga manusia menderita … ini hanyalah sekedar kisah wanita miskin yang hidup di era kuno, terbelengku oleh berbagai aturan yang berlaku di masyarakat, hanya keberanian serta kekuatan Impian membuat dirinya ‘berbeda’ dengan yang lain. 

Jika Anda pernah membaca kisah Merry Riana, maka bayangkan sosok wanita yang sama tetapi pada era yang jauh berbeda, namun dengan rintangan dan tantangan yang sama. Dunia nyata memang sedikit lebih kejam ( penuh diskriminasi ) dalam memperlakukan wanita, tidak peduli pada era atau zaman yang berbeda. Tapi satu pelajaran penting yang menjadi pegangan orang-orang yang “berhasil” dalam hidupnya : memegang teguh Impian dan tidak pernah menyerah pada kondisi apa pun.   

Meminjam ucapan Kuniko – adik tersayang Ichiyo, pada suatu siang 300 tahun silam : “ Kau akan menjadi terkenal, mungkin wajahmu akan muncul dalam uang kertas Jepang suatu hari nanti, Ichiyo, dan kita tak akan pernah miskin lagi ! ” Ichiyo tertawa, “ Teruslah bermimpi, ya Kuni-chan, paling tidak itulah yang dapat kita lakukan terus-menerus, karena mimpi itu gratis ! “

Pada sekitar tahun 1857 Jepang pada zaman Meiji, pasangan Noriyoshi Higuchi dan Furuya Ayame melarikan diri dari desa tempat tinggal mereka menuju ibukota Edo. Mereka berdua masih sangat muda, namun kondisi Furuya yang hamil sebelum mereka menikah, akan menjadi aib  bagi keluarganya, dan pernikahan merupakan pilihan yang tak pernah diterima oleh kedua belah pihak keluarga masing-masing. 

Noriyoshi Higuchi – pemuda tampan dan menarik, memiliki cita-cita tinggi untuk mengangkat derajat hidupnya pada posisi terhormat, namun kemiskinan menghalangi jalannya, hanya kepandaian serta kecerdasan otaknya yang menjadi bekal hidupnya. Furuya Ayame – gadis cantik, putri pengusaha kaya, hidup dalam kelimpahan serta kenyamanan,  jatuh hati pada pemuda tampan namun miskin sehingga dianggap tidak layak oleh keluarganya. 

Perjalanan hidup dari desa ke kota besar, berusaha bertahan hidup dengan menjual simpanan serta harta benda yang tidak banyak, berpindah ke kota lain demi mengikuti majikan yang mau mempekerjakan Noriyoshi, bukan hal yang mudah bagi Furuya, apalagi ketika ia melahirkan anak pertama tanpa didampingi satu pun kerabatnya. Tapi Furuya berusaha menerima semuanya, sembari berdoa bagi terwujudnya cita-cita sang suami. 

Bahkan ketika Noriyoshi meminta dirinya memenuhi perintah penguasa shogun yang mencari ibu-susu bagi putrinya yang baru lahir, Furuya harus pergi ke kediaman samurai yang sangat jauh, meninggalkan bayinya demi menyusui bayi orang lain. Semua karena ambisi Noriyoshi yang bertekad mengangkat derajat keluarganya menjadi seorang samurai.
Bahkan ketika akhirnya Furuya berhasil kembali pada keluarganya, dan berturut-turut melahirkan anak, ambisi Noriyoshi tidak pernah pudar, justru semakin tersulut dan mengusahakan agar putra-putranya dijadikan anak angkat keluarga samurai. Dan Natsuko – anak kelima, putri kedua, lahir dengan tenang tanpa banyak merepotkan ibunya, menyusul Kuniko – putri bungsu, adik tersayang Natsuko. 

Semenjak kecil Natsuko kecil menjadi kegembiraan di keluarganya. Ia sangat cerdas, sehingga mampu menarik hati serta perhatian Noriyoshi. Furuya merasa cemas dengan peralihan ambisi Noriyoshi yang dilimpahkan pada putrinya, dengan memberikan pelajaran sastra klasik serta puisi-puisi. Tapi Noriyoshi tidak memperdulikan larangan istrinya, ia melihat suatu harapan pada putrinya yang sangat cepat menangkap pelajaran yang diberikan dengan kehausan akan pengetahuan yang sangat jelas – sungguh berbeda dengan putra-putranya. 

Dengan dorongan sang ayah untuk mereguk ilmu setinggi-tingginya, bertentangan dengan sang ibu yang khawatir akan masa depan seorang gadis yang terlalu sibuk dengan sastra dan puisi, bagaiman putrinya akan menjadi calon istri yang baik ? Namun Natsuko memutuskan menjalani hidup yang ia sukai : membaca dan menulis. Maka masa kecil Natsuko membuatnya dijauhi teman-teman sebaya, tak ada yang mau mengajaknya bermain, jika diajak pun Natsuko tidak menyukainya…gadis ini menjadi kutu buku yang hidup dalam dunianya sendiri. 

[ source ]
Natsuko menjadi dewasa dalam pikiran, meski masih sangat belia usianya. Ia bisa melihat bahwa tidak ada hal yang mustahil jika kita menginginkan sesuatu, bahkan semasa kecil ia sering berkelahi dengan kakak-kakaknya demi mempertahankan pendapatnya.

“Kau tak mungkin menjadi penulis, Natsuko, karena kau perempuan,” kata Sentaro. “Tugas perempuan adalah menikah dan tinggal di rumah serta melahirkan anak, bukan menjadi penulis atau apa pun !”
“Jangan berkata begitu, Sentaro,” teriak Natsuko. “Perempuan mampu menjadi apa pun yang mereka inginkan asalkan mereka memiliki otak dan sepasang tangan ! Mereka sama pintarnya dengan laki-laki !” (p. 48-49)

Impian Natsuko satu-satunya yang membuatnya bertahan dalam menghadapi kehidupan keluarganya yang semakin terpuruk. Dimulai dengan pemerhentian ayahnya dari dinasnya pada usia 57 tahun. Menyusul penyakit parah menyeret Sentaro  - putra tertua harapan keluarga, pada kematian di usia muda. Putra kedua yang pemalas, memilih berpisah dengan keluarga, tak mau mengambil alih tanggung jawab, bahkan setelah Noriyoshi meninggal dalam usia 59 tahun dalam kondisi sedih dan patah hati setelah kematian putranya, dan ia juga meninggalkan warisan hutang menumpuk pada sisa keluarga yang terdiri dari tiga orang wanita. Natsuko yang akhirnya mengambil alih tugas sebagai kepala keluarga, bergelut setiap saat-setiap hari antara Impian dan beban penderitaan yang diterima keluarganya.

“Sekarang aku harus berjuang sendirian, untuk pertama kalinya aku menatap diriku dalam cermin dan melihat seorang perempuan kurus berwajah seperti burung, begitu mungil, lemah dan rapuh, apakah itu benar-benar diriku ? Mampukah aku meraih keberhasilan ? Dan aku tahu di dalam tubuh kecil ini terdapat hati yang tulus dan api semangat menulis yang berkobar-kobar dan aku bersumpah demi setiap hela napas di tubuhku bahwa aku akan dikenang karena karya tulisanku – buku harianku. Bahkan jika aku harus mati untuk itu, aku tak akan membiarkan diriku dilupakan.” ( p.86 )

Tentang Penulis :
Rei Kimura adalah seorang pengacara yang memiliki passion dalam bidang menulis. Keunggulan karya-karyanya terletak pada penggambaran peristiwa dan karakter tokoh yang unik. Ia menampilkan kisah yang digali dari kejadian nyata dan hidup orang-orang sebenarnya di dalam beberapa bukunya. Ia meyakini bahwa ini sebuah cara yang paling baik untuk menjadikan sejarah yang tersembunyi menjadi “hidup” dan dapat diterima oleh pembaca di abad 21. 

Dengan cara itu, Kimura menyentuh beberapa sejarah tragis seperti tenggelamnya Kapal Awa Maru dan kisah pilot kamikaze perempuan  di masa Perang Dunia II lalu merangkainya menjadi sebuah cerita yang menyentuh bagi orang-orang yang hidup dan meninggal pada masa kejadian itu. 

Kimura memandang karya-karyanya sebagai pencarian atas kebenaran, tantangan, dan kepuasan. Buku-bukunya diterjemahkan ke berbagai bahasa di Asia dan Eropa dan telah terbit di seluruh dunia. Selain menjadi pengacara, Kimura juga seorang jurnalis freelance yang andal dan tergabung dalam Australian News Syndicate. 

Best Regards,


Friday, February 15, 2013

Books "A SINGLE SHARD"



Judul Asli : A SINGLE SHARD
Copyright © by Linda Sue Park
Penerbit Atria
Alih Bahasa : Maria M. Lubis
Editor : Fenty Nadia & Ida Wajdi
Illustrasi : Indra Bayu
Desain Cover  : Aniza Pujiati
Cetakan I : Maret 2012 ; 196 hlm 
~ Re-Blogged from HobbyBuku's Classic ~

Kisah ini berawal di sebuah desa kecil di pantai barat Korea, sekitar pertengahan abad ke-12. Tentang seorang pemuda yang disebut sebagai ‘Tree-ear’ atau jamur kuping, ia diberikan nama serupa dengan jamur keriput dan berbentuk setengah lingkaran yang mampu tumbuh di batang-batang pohon mati atau tumbang, muncul dari kayu lapuk tanpa benih semaian. Sebatang kara semenjak kanak-kanak ketika terjadi wabah penyakit di desanya. Semula ia hendak dirawat oleh para rahib di kuil, namun ketika tiada yang sanggup, maka Crane-man, seorang tunawisma yang cacat kaki, bersedia merawatnya hingga dewasa. Meski tinggal di bawah jembatan dan mencari makanan dari sisa-sisa yang makanan yang terbuang, Crane-man mengajarkan budi pekerti serta kehormatan harga diri kepada Tree-ear, agar tidak pernah melakukakan perbuatan tercela.

“Mencuri dan mengemis membuat seorang manusia tidak lebih baik daripada seekor anjing.”
“Pekerjaan memberikan harga diri kepada seorang manusia, sementara mencuri memusnahkannya.”

Di sela-sela waktunya, Tree ear suka mengamati Min – pembuat Keramik terbaik di desa Ch’ulp’o, hasil karyanya terkenal seantero Korea, karena keindahan serta keunikan yang tak bisa ditiru oleh pembuat Keramik lainnya. Dan saat suatu hari Tree ear memberanikan diri untuk melihat hasil karya Min dari dekat, tanpa sengaja ia memecahkan salah satu diantaranya. Demi menebus kesalahan, Tree ear menawarkan jasa untuk bekerja tanpa bayaran kepada Min. Di mulai dari mencari kayu sebagai bahan bakar tungku pembuatan keramik, hingga akhirnya Tree ear diperbolehkan mencari dan menggali tanah liat bahan utama pembuatan keramik yang bagus. 


[ source ]
Kerja keras dan semangat pantang menyerah yang ditunjukkan oleh Tree ear membuahkan kepercayaan dari pihak Min, terutama sang istri yang baik hati. Kehidupan sehari-hari Tree ear serta Crane-man mulai sedikit membaik, terutama dengan adanya asupan makanan secara rutin, sebagai pengganti jasa  Tree ear. Hingga saat muncul pengumuman adanya sayembara pemilihan keramik terbaik yang akan dipilih oleh wakil Kerajaan. Hal ini bukan saja penghargaan serta kehormatan, tetapi sang pemenang akan terjamin masa depannya, karya-karyanya akan di tempatkan di lingkungan Kerajaan, di hadapan para bangsawan petinggi serta Sang Penguasa. 

Semua Pembuat Keramik bekerja keras, berlomba membuat keramik terbaik dan tiada duanya. Tree ear yakin akan kemampuan Min, bahwa beliau pasti dapat memenangkan sayembara ini. Saingan Min hanya ada satu orang bernama Kang, yang memiliki keunikan tersendir pada keramik hasil karyanya. Dari awal Min sangat ambisius dan membuat suatu eksperimen yang belum pernah dicoba sebelumnya, dengan menggunakan bahan yang tidak biasa pula. Tree ear dengan rasa takjub, sekaligus penasaran, menanti hingga tiba hari di mana keramik-keramik itu akan dinyatakan siap untuk disajikan dalam pameran khusus bagi wakil Kerajaan yang akan datang ke desa Ch’ulp’o. Namun saat hari yang ditentukan, keramik-keramik Min sebagian besar dihancurkan oleh dirinya sendiri --- karena dianggap tidak layak, terjadi cacat produksi saat pembuatannya. 

[ source ]
Sang wakil Kerajaan adalah ahli dalam penilaian kualitas keramik, dan beliau melihat dari contoh karya Min (yang tidak banyak karena sebagian besar sudah dihancurkan karena Min adalah seniman yang perfeksionis), bahwa ada ‘sesuatu’ yang berbeda pada karya ini. Maka beliau menyampaikan pesan, bahwa jika Min mampu mengirimkan contoh lain dari karya terbaiknya ke  Kerajaan, maka beliau akan memastikan untuk ‘membantu’ pemesanan karya-karya Min lainnya. Min yang sudah merasa lanjut usia, menyatakan takkan sanggup menempuh perjalanan jauh dari desa menuju ibukota. Tree ear yang ‘mendengarkan’ diskusi ini, memutuskan membantu dan bersedia pergi mengirim hasil karya Min ke Ibukota. 
Tree ear – pemuda pendiam, tak pernah bepergian kecuali di sekitar desanya. Tak memiliki kemampuan serta keahlian khusus, namun memiliki kejelian serta jiwa seni keramik serta tekad tinggi guna mencapai tujuannya. Ia harus pergi meninggalkan wilayah yang dikenalnya, menempuh perjalanan jauh, seorang diri, tanpa mengetahui secara persis di mana letak Ibukota. Ia bahkan harus meninggalkan Crane-man, yang sudah dianggap sebagai pengganti orang tuanya. Tree ear berangkat menyongsong dunia yang tak pernah ia kenal, dan mengalami musibah besar, yang menyebabkan Keramik khusus persembahan bagi Kerajaan rusak parah ... apa yang harus dilakukan olah Tree ear ? Kembali menempuh perjalanan pulang dengan kegagalan, atau bertekad maju dengan segala keyakinan dan segenggam penuh harapan di pundaknya ?

Sebuah kisah perjuangan yang manis, jujur, dan sangat menyentuh, dituturkan dengansepenuh hati oleh penulis yang memiliki kecintaan akan kisah-kisah kehidupan di sekelilingnya. 

Tentang Penulis :
Linda Sue Park adalah putri dari pasangan imigran dari Korea yang datang dengan penuh impian ke Amerika. Berbekal tekad dan kemampuan bahasa Inggris seadanya, mereka tinggal di Chicago, Illinois. Sang ibu mengajarkan pada sang putri yang baru berusia empat tahun, alfabet secara fonetik dengan sistem kartun satu halaman, dan alhasil ketika Linda memasuki sekolah taman kanak-kanak, ia satu-satunya anak yang sudah bisa membaca. Dan setiap dua minggu sekali dalam sebulan, pada Sabtu pagi, sang ayah akan mengajak anak-anaknya ke perpustakaan kota, dan meminjam berbagai literatur bacaan anak-anak Amerika, berkat rekomendasi pamflet dan brosur buku-buku pilihan terbitan ALA yang secara teratur dikumpulkan oleh sang ayah. Maka tak heran kecintaannya pada dunia literatur berakar sangat kuat pada diri si gadis cilik bernama Linda Sue Park hingga ia dewasa. 

Novel pertamanya berjudul Seesaw Girl, menunjukan pengaruh budaya Amerika yang telah dijalani, namun tetap menampilkan aspek serta kultur-budaya Korea. Dan keinginan untuk menciptakan karya tulis bagi anak-anak dengan memperkenalkan budaya serta peninggalannya, sesuatu yang sudah banyak dilupakan oleh generasi muda ... mendorongnya menulis “A Single Shard” – yang berlatar belakang sejarah seni pembuatan keramik Korea yang terkenal hingga kini. Keramik Korea pada abad ke-11 hingga ke-12 merupakan keramik terindah di dunia, jauh sebelum Keramik Cina muncul. Salah satunya adalah jenis yang disebut keramik seladon yang mampu memberikan tekstur pasir dengan gradasi warna yang menarik. Hingga kini peninggalan keramik seladon ini tersimpan di museum-museum khusus, merupakan keramik yang dicari oleh kolektor sedunia, bukan saja karena keindahannya yang unik, tetapi juga karena saat ini tidak ada seniman yang mampu membuatnya, dengan tehnis serupa.

Best Regards, 


Books "THE DEVIL'S WHISPER"



Books “THE DEVIL’S WHISPER”
Judul Asli : MAJUTSU WA SASAYAKU
Copyright © 1989 by Miyuki Miyabe
Penerbit : Serambi
Alih Bahasa : Nadya Andwiani
Editor : Adi Toha
Cetakan I : Maret 2012 ; 416 hlm 

Tokyo, Jepang, kota besar dengan kepadatan penduduk, yang masing-masing sibuk dengan kegiatan dan urusannya sendiri, tanpa terlalu memperhatikan keadaan di sekelilingnya, meski telah terjadi tragedi yang merenggut nyawa seseorang, hanya segelintir yang menaruh perhatian, hanya beberapa orang yang terusik karenanya, sebuah kejadian yang menyangkut nasib beberapa orang yang tampak tidak saling mengenal satu dengan lainnya...

Mamoru Kusaka – bocah berusia 16 tahun, terbangun dari mimpi buruk yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia alami, mimpi tentang ibunya saat dua belas tahun lalu, menerima kabar lewat telepon, kabar yang merubah seluruh hidup mereka, dirinya dan ibunya. Dan kini ia terbangun hanya untuk menghadapi kenyataan menakutkan, sesuatu yang buruk juga akan menimpa keluarga barunya, saat ia melihat bibinya Yoriko, menerima telepon dini hari, melihat wajahnya yang memucat, kabar buruk tentang pamannya Taizo Asano, yang ditangkap karena dianggap menyebabkan kematian seorang wanita muda yang tewas seketika saat ‘ditabrak’ oleh taksi yang dikemudikan oleh Taizo. 

Taizo Asano – seorang pengemudi taksi selama dua puluh tahun, telah membanggakan diri atas prestasinya tanpa cacat, bahkan surat tilang pun tak pernah ia dapatkan. Dan kali ini ia pun bersikeras tidak bersalah, ia mengatakan bahwa wanita itu mendadak muncul dan seakan berlari ketakutan dikejar sesuatu dan terus berlari bahkan saat lampu lalu lintas menunjukkan bahwa kendaraan boleh melaju, hingga boleh dikatakan, dirinya sendiri menabrak ke taksi yang sedang berjalan, bukan sebaliknya.


Tiadanya saksi serta lokasi kejadian yang berada di tempat terpencil, membuat pihak berwajib kesulitan mencari kebenaran, maka jalan termudah adalah menahan Taizo Asano sebagai tersangka utama. Maka kehidupan baru dimulai oleh keluarga Asano, istri Taizo : Yoriko serta putri satu-satunya Maki, menghadapi tragedi dengan cara yang berbeda. Yoriko berusaha dan berjuang demi kebebasan suaminya, Maki terpuruk dalam kesedihan dan ketakutan. Dan Mamoru Kusaka – kemenakan Yoriko yang telah menjadi anggota keluarga mereka, seakan mengalami ‘flash-back’ akan masa lalunya yang pahit. 

[ source ]
Mamoru Kusaka, putra Keiko dan Toshio, baru berusia 4 tahun ketika kabar tentang ayahnya diterima oleh ibunya lewat telepon. Kabar yang memberitahukan bahwa Toshio Kusaka – asisten kepala bagian keuangan kota, telah menghilang setelah terungkap dana masyarakat sejumlah lima juta yen dilaporkan lenyap.  Semenjak itu kehidupan masa kecilnya berubah drastis, segala kenyamanan, kemewahan serta pelayanan hilang, digantikan dengan kemiskinan, serta sorotan negatif masyarakat terhadap dirinya serta ibunya. Ia menjalani kehidupannya yang sepi karena dijauhi oleh siapa saja, tanpa seorang pun bersedia menjadi teman.  Hingga ibunya meninggal, dan akhirnya ia dibawa untuk tinggal dengan bibinya Yoriko – kakak Keiko, ia mulai merasakan kebahagiaan akan keluarga barunya, hingga peristiwa ini terjadi, membuatnya berpikir apakah dirinya ‘pembawa petaka’ sehingga membawa nasib buruk pada keluarga barunya ?? 

Bagai ‘deja vu’  beberapa perlakuan buruk, penghinaan dan teman-teman yang menjauhi, mulai Mamoru rasakan di sekolahnya, dan masa lalu ayahnya kembali diungkit. Hanya beberapa orang saja yang masih berlaku baik kepadanya, Mamoru merasakan suatu desakan, bahwa ia harus menemukan jalan guna memulihkan kondisi itu. Dan jalan satu-satunya adalah berusaha menyelidiki kejadian yang menimpa pamannya, dan mencari tahu tentang sang korban. Karena ada sebuah fakta yang tidak terungkap, bahwa korban tidak langsung meninggal, ia sempat mengulang-ulang perkataan “Mengerikan sekali, mengerikan ! Tega sekali dia ?” ... menimbulkan pemikiran di benak Mamoru, mungkin saja benar bahwa wanita itu dikejar-kejar sesuatu, yang menyebabkan kematiannya, bukan akibat kesalahan pamannya. 

Mamoru Kusaka – bocah berusia 16 tahun, pemuda yang pandai, cerdas dan sensitif, memiliki kemampuan menganalisa serta membongkar kunci ( suatu keahlian yang diperoleh dari sosok yang dipanggilnya Kakek, satu-satunya orang yang bersedia berteman dan bersahabat dengannya di masa kecilnya yang suram, dan mewariskan pengetahuannya pada bocah itu ), berusaha menjalani sekali lagi kehidupan penuh cobaan  dan hinaan bahkan teror. Namun kali ini ia tak mau menyerah, pasrah pada kondisi yang ada, ia berusaha sekuat tenaga guna mencari jawaban serta kebenaran.

Dan dimulailah penyelidikan Mamoru, pada korban  yang bernama Yoko Sugano – seorang mahasiswi berusia 21 tahun dengan masa depan cerah, namun ada suatu rahasia yang disembunyikan dalam kehidupannya. Rahasia yang membawa Mamoru pada korban lainnya, Fumie Kato, wanita berusia 24 tahun yang akan menikah dalam waktu seminggu kemudian, namun memilih meloncat dari atap apartemennya, dan Atsuko Mita, wanita berusia 20 tahun yang mendadak meloncat di depan kereta yang sedang melaju kencang. Semua sanak keluarga maupun kenalan para korban terkejut dengan kematian para korban, karena tiada tanda-tanda sebelumnya. Tapi kesaksian yang mirip tentang bagaimana korban seakan ‘berlari ketakutan’ dikejar sesuatu....sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. 

[ source ]
Mamoru sudah hampir putus asa, ketika ia menerima telepon aneh di kediaman Asano, selain telepon teror, cacian dan makian, maka telepon ini sungguh sangat janggal, karena sang penelepon justru ‘berterima-kasih’ atas kematian yang dialami Yoko Sugano. Kemudian muncul telepon-telepon berikutnya, dari suara yang sama, mencari Mamoru, justru di saat ia mulai menemukan ‘hubungan’ antara para korban, karena wanita-wanita yang tewas, pernah dimuat dalam suatu artikel majalah indie, dan salah satu dari wanita di dalam artikel tersebut kelihatannya masih hidup ... belum menjadi korban berikutnya, wanita bernama Kazuko Takagi – yang tidak jua bisa ditemukan di mana pun, seakan-akan ia lenyap di telan bumi. 

Semakin pelik kondisi yang dialami Mamoru. Saat ia mendapat sebuah petunjuk baru, terjadi peristiwa yang ‘menutup’ sumber penyelidikannya. Namun anehnya, tragedi demi tragedi yang dialaminya, justru menuntun dirinya pada suatu jalur yang membawanya pada suatu kenyataan, sebuah fakta, kebenaran yang disembunyikan sekian tahun. Tanpa diduga kejadian-kejadian ini turut menyeret masa lalunya, dan akhirnya Mamoru harus berhadapan dengan kenyataan yang merubah hidupnya dua belas tahun silam. Akankah Mamoru berhasil menuntaskan penyelidikannya ?? Apakah benar nasib buruk membayangi kehidupannya ??? Dan siapakah sosok di balik layar yang senantiasa membayangi kehidupan Mamoru, di masa silam maupun saat ini ????

Kesan :
Saat pertama kali melihat buku ini, sedikit ‘prasangka’ timbul, jangan-jangan ini cerita paranormal, berhubungan dengan hantu-hantu ... bukannya diriku takut dengan bacaan seperti itu, hanya terkadang novel Jepang yang berbau mistis, bukannya seram justru bisa masuk kategori “aneh bin ajaib” hehe, sampai sempat bertanya dengan penerjemahnya ... (^_^), dan untunglah ini termasuk kategori thriller-misteri. 

Dibuka dengan adegan kematian para korban, semuanya wanita, meninggal dengan cara misterius, dan hasil penyelidikan menunjukkan bahwa mereka semua bunuh diri ... meski banyak sekali tanda tanya  pada pihak keluarga dan kenalan para korban. Pertanyaannya adalah : Mengapa ??  ... apakah mereka memang bunuh diri atau dibunuh ?

Sungguh suatu kisah misteri yang menarik, dimulai dengan pembukaan yang menimbulkan tanda tanya besar, diikuti dengan pemunculan sosok-sosok tanpa nama yang menaruh perhatian khusus pada para korban, ada yang tampak sangat tertarik, ada yang bahagia dengan tragedi tersebut, dan ada yang menjadi sangat ketakutan – khawatir akan keselamatan nyawanya.  Dan kemudian tampil tokoh utama, bocah Mamoru Kusaka, dengan kilas-balik kehidupan masa lalunya, serta kehidupan baru yang dijalaninya sekarang. 

~ "Majutsu Wa Sasayaku" Movies Adaptation ~
Meski seperti berlompat-lompat dari satu adegan ke adegan lain, beda karakter, beda lokasi, bahkan terkadang beda waktu dengan pemaparan secara flash-back, penulis mampu merangkumnya menjadi suatu adegan yang mengalir, bagaikan menonton film dengan penggambaran detil akan lokasi serta deskripsi akan kondisi mental dan kejiwaan yang dialami masing-masing karakter.  

Membaca kisah ini membuat diriku bertanya-tanya, apakah akan muncul terjemahan lain karya beliau, karena dari  searching tentang karya tulisnya, ternyata cukup banyak dan dari berbagai genre, bukan hanya misteri.  Misalnya novelnya Crossfire, tentang gadis yang memiliki kekuatan mengeluarkan api, mengingatkan diriku akan kisah Firestarter by Stephen King – who also known as King of Mystery. Atau novelnya yang mendapatkan penghargaan seperti The Book of Heroes dan Brave Story serta The Sleeping Dragon ... well, semoga penerbit  bersedia mengabulkan ‘pengharapan’ ini (^_^)

Tentang Penulis :
Miyuki Miyabe lahir pada 23 Desember 1960, adalah penulis buku laris asal Jepang dengan lebih dari 40 novel dan penerima sejumlah penghargaan sastra, termasuk penghargaan tertinggi sastra populer Jepang : Naoki Prize. Selain dikenal sebagai penulis novel kontemporer Jepang, ia mengeluarkan buku-buku dengan genre science fiction, historical fiction, juvenile fiction dan mystery fiction, yang membuatnya dijuluki Queen of Mystery oleh para penggemarnya.

Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa, termasuk  Prancis, Denmark, Rusia, Yunani, Jerman, China dan Korea. Judul karyanya yang lain meliputi The Slepping Dragon, All She Was Worth, Shadow Family, dan Crossfire. Dia juga menulis novel bergenre remaja-dewasa : Brave Story, yang memenangkan Batchelder Award dari Association for Library Service, bahkan diangkat ke layar lebar sebagai animated film, dibuat menjadi serial manga dan serial vidio games. 

Hampir sebagian besar seluruh novelnya diangkat menjadi film layar lebar, adaptasi film maupun serial televisi. Meski pun baru memulai menulis novel pada usia 23 tahun saat ia masih bekerja di  sebuah biro hukum, Miyuki menyempatkan diri mengikuti sekolah penulisan, yang pada akhirnya membawa pada serangkaian novel dan tulisan yang diterbitkan dan dinikmati para penggemarnya seantero dunia, dan ia masih tetap aktif dalam dunia penulisan hingga kini. 

Best Regards,



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...