Translate

Sunday, June 7, 2015

Books "THE END OF MANNERS"

Books “PEREMPUAN-PEREMPUAN TAK BERWAJAH”
Judul Asli : THE END OF MANNERS
by Francesca Marciano
Copyright © Audenspice Limited 2007
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Rahmani Astuti
Editor : Ariyanti E. Tarman
Desain sampul : Eduard Iwan Mangopang
Cetakan I : 2014 ; 368 hlm ; ISBN 978-602-03-0213-3
Harga Normal : Rp. 59.000,-
Rate : 3.5 of 5

Maria Galante mencintai pekerjaannya sebagai fotografer profesional yang berkutat dengan jadwal padat pemotretan di bidang kuliner. Hingga suatu hari agennya menawarkan peluang untuk mengerjakan misi khusus di Afghanistan, menemani jurnalis ternama bernama Imogen Glass, yang hendak melakukan liputan tentang kaum perempuan di Afghanistan. Maria sadar bahwa di usianya ke-32 tahun, ia telah menikmati kenyamanan dan keamanan dalam rutinitas pekerjaan selama 2 tahun terakhir. Masa lalunya sebagai fotografer peraih penghargaan dan keberaniannya meliput aneka topik seputar sosial budaya di masyarakat, berusaha ia hapus dari ingatannya, terlebih setelah sindrom stress berkepanjangan yang sempat ia alami serta patah hati akibat putus dari calon suami yang ternyata diam-diam berselingkuh. Berkat bujukan Pierre – agen sekaligus sahabatnya, Maria mengambil keputusan nekad untuk kembali terjun dalam kancah jurnalistik di dunia yang sama sekali berbeda.


Tanpa pernah membayangkan bahwa kehidupannya akan sama sekali berubah, Maria mengikuti berbagai macam kegiatan yang harus ia jalani untuk menuntaskan misi tersebut. Dari mengikuti pelatihan khusus yang diadakan oleh pelatih-pelatih mantan anggota militer, yang bukan saja memberikan latihan fisik berat dan pelatihan penggunaan senjata, melainkan juga pelatihan mental untuk menghadapi hal-hal mengerikan di kancah peperangan, hingga perjalanan serta proses panjang untuk akhirnya tiba di Afghanistan. Bayangan bahwa ia cukup melakukan pemotretan kegiatan kaum perempuan Afghanistan dalam kehidupan seharai-hari, dan memperoleh jawaban mengapa cukup banyak para gadis memilih melakukan bunuh diri saat di hadapkan pada pilihan masa depan yang terbatas : menikah dengan pasangan yang tak dikenal, asalkan mereka mampu ‘membayar’ pada keluarga sang gadis, atau bunuh diri ... dan kesulitan pertama yang menghadang Maria justru adanya larangan keras untuk memotret kaum perempuan Afghanistan, atau dikenai sangsi hukuman seberat-beratnya oleh pihak berwenang.

Semenjak awal saat membaca sinopsis kisah ini, diriku tertarik untuk mengetahui sudut pandang yang berbeda dari sosok perempuan mandiri yang terbiasa dengan budaya Barat, saat ia juga berusaha memahami kehidupan kaum perempuan Afghanistan yang dikabarkan mengalami penderitaan dan siksaan sepanjang hidupnya. Uniknya, penulis justru memilih beragam sudut pandang melalui perpaduan karakter yang beragam pula. Selain tokoh utama Maria Galante – yang mengalami ketakutan sepanjang hidupnya bahwa ia tak akan pernah meraih prestasi tertinggi dalam pekerjaan juga kehidupan pribadinya, pembaca juga diajak mengikuti pandangan Imo Glass – jurnalis yang digambarkan telah meraih kesuksesan demi kesuksesan dan menikmati kehidupan yang luar biasa. Di sisi lain, sorotan tentang kehidupan masyarakat Afghanistan, disajikan dalam kilasan para pendatang yang terpuruk dan terjerat tanpa mampu keluar dari lingkaran rutinitas yang unik, berpadu dengan penerimaan penduduk asli tatkala mereka harus menjalani kehidupan nyata di tengah kecamuk perang tiada henti.
“Pilihan apa yang dimiliki wanita ketika dibesarkan dengan kepercayaan bahwa menampilkan wajahnya merupakan kejahatan ? Wanita dengan orangtua, komunitas, dan guru-guru yang menanamkan ide dalam pikirannya bahwa tubuhnya adalah sepotong daging yang hanya bisa mengundang syahwat ?”
Terus terang diriku awalnya berharap akan memperoleh kisah melodramatis penuh ketegangan akan konflik kehidupan di Afghanistan. Alih-alih penulis justru menyajikan situasi yang bisa dikatakan sebagai perpaduan antara sajian ‘keindahan’ dari alam dan lingkungan masyarakat yang mampu ‘menerima’ (bersyukur) kejadian demi kejadian yang mengguncang emosi, serta bangkit kembali untuk tetap memandang ke depan, dengan sajian ‘kehancuran’ dari puing-puing reruntuhan bangunan dan hati serta jiwa yang retak akibat keputus-asaan. Jika Anda mengharapkan jawaban dari kisah ini, maka boleh kukatakan hal tersebut bukanlah prioritas yang hendak disampaikan oleh penulis. Kisah sepanjang 300 halaman ini (dengan pilihan font yang cukup mungil pula) merupakan refleksi dari rangkaian pemikiran yang berbeda-beda, bertolak-belakang, namun pada intinya akan membawa sebuah ‘pencerahan’ tersendiri bagi pembaca, terutama kaum perempuan dalam menghadapi aneka halangan, masalah dan kehancuran di dunia nyata, serta peran masing-masing sebagai sosok kekasih, pasangan suami-istri, anak, orang tua, bawahan, atasan, pekerja, pengusaha, dan tentu saja sebagai manusia seutuhnya yang diciptakan secara unik oleh Sang Pencipta.
“Sebagai jurnalis dari Barat aku harus memutuskan setap hari porsi penderitaan orang mana yang akan kujadikan tema hari ini dan porsi mana yang harus kuabaikan supaya tidak mengacaukan tulisanku ... dan yang paling kusesali adalah kami terlalu sibuk mengerjakan cerita tentang kekerasan terhadap kaum wanita sehingga tidak menyadari kenyataan bahwa salah satu dari wanita itu sekarat dalam penderitaan proses melahirkan. Kalau bukan memalukan, itu pantas disebut ironis.”
Tentang Penulis :
Francesca Marciano adalah aktris sekaligus pengarang dua novel, Rules of the Wild (yang mendapat penghargaan Notable Book versi New York Times) dan Casa Rossa. Ia juga aktif sebagai penulis skenario, termasuk Don’t Tell (La Bestia nel cuore) yang memperoleh nominasi 2005 Academy Award untuk kategori Fim Asing Terbaik, serta I’m Not Scared (Io non ho paura) di tahun 2003 yang ditulis bersama Niccolo Ammaniti. Kini ia sedang sibuk menggarap skenario untuk The Wedding Party yang mengambil lokasi di Afghanistan, diproduksi oleh BBC Films. Kini ia tinggal di Roma, Italia.

[ more about the author & related works, just check at here : Francesca Marciano | on Goodreads | on IMDb | at Facebook ]

Best Regards,

@HobbyBuku 

2 comments :

  1. pengen beli versi b.ing tapi mahal huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. ouww ... aku adanya yg terjemahan bahasa Indonesia :D

      Delete

Silahkan tinggalkan pesan dan komentar (no spam please), harap sabar jika tidak langsung muncul karena kolom ini menggunakan moderasi admin.
Thanks for visiting, your comment really appreciated \(^0^)/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...