Translate

Tuesday, September 18, 2012

Books "HONEYMOON WITH MY BROTHER"



Judul Asli : HONEYMOON WITH MY BROTHER : A MEMOIR
Copyright © 2005, Franz Wisner
Penerbit Serambi Ilmu Semesta
Alih Bahasa : Berliani M. Nugrahani
Editor : Anton Kurnia & Dian Pranasari
Cetakan I : Agustus 2012 ; 592 hlm (new edition)
Rate : 3,5 of 5

[ "Resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com" | source from Reading Walk's Library ]

]
[ source ]
Pernahkah Anda menonton film ‘Runaway Bride’ yang dibintangi Julia Roberts dan Richard Gere ? Kisah tentang seorang wanita yang selalu nyali-nya ciut saat berada di depan altar pernikahan, dan memilih melarikan diri daripada menghadapi masalah-masalah yang menakutkan dirinya. Nah kisah dalam buku ini sedikit mirip dengan kejadian tersebut, namun ini bukan fiksi atau dongeng, melainkan sebuah kisah nyata yang dialami oleh sang penulis. 

Franz Wisner menjalani kehidupan yang luar biasa. Ia sehat dan cakap, keuangan lebih dari mencukupi dengan pekerjaannya sebagai sekertaris jurnalis pemerintah, pelobi, dan eksekutif PR perusahaan ternama, ditambah dengan seorang wanita yang ia cintai selama lebih dari 5 tahun. Hubungan dirinya dengan Annie mengalami pasang-surut sebagaimana layaknya pasangan kekasih. Namun Franz tetap menaruh harapan besar akan masa depan mereka berdua. Mulai dari membeli rumah masa depan, tinggal bersama, hingga persiapan menuju pernikahan. Tanpa diduga, pada minggu menjelang resepsi pernikahan mereka, Annie memutuskan hubungan. 

[ source ]
Franz mengalami shock namun sebelum ia tenggelam dalam kondisi depresi berat, para sahabat serta keluarganya berusaha menganggkat ia keluar dari kubangan kesedihan. Saat ia berusaha mengatasi beban yang menghimpit hatinya, mendadak turun ultimatum bahwa posisi pekerjaannya ‘dialihkan’ ke bagian yang lebih sepi. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga dan terperosok dalam lubang, mungkin itu yang dirasakan oleh sang penulis. Tiada satupun yang mampu menjadi pegangan hidupnya, tidak kekasih atau pekerjaan yang ditekuninya selama bertahun-tahun.

Di saat-saat demikian, ia memperoleh ide untuk ‘keluar’ dari suasana yang membuatnya semakin depresi. Memanfaatkan tiket yang sudah terlanjur dipesan untuk ‘bulan-madu’ maka ia memutuskan bepergian keliling Eropa bersama adiknya Kurt yang juga baru saja bercerai dan hidup seorang diri. Kurt menjual rumahnya dan memboyong seluruh barang-barangnya, termasuk kedua ekor anjingnya ke rumah Franz (rumah yang semula dibeli dan dibangun demi rumah tangga Franz dan Annie, namun tak akan pernah ditinggali oleh pasangan tersebut), kemudian mereka mempersiapkan suatu perjalanan menjelajahi wilayah Eropa yang belum pernah diketahui. 

[ source ]
Kemudian Kurt memperoleh ide baru, alih-alih mereka menghabiskan keuangan pesiar ke tempat-tempat mahal, mengapa tidak mengunjungi negara-negara Dunia Ketiga. Dan daripada bolak-balik naik pesawat, lebih baik mereka membeli mobil, untuk berkeliling melalui jalur darat, sehingga lebih menikmati suasana yang berbeda. Jika Franz selalu hidup dengan penuh perencanaan serta persiapan matang, maka Kurt justru seringkali bertindak berdasarkan spontanitas serta intuisi. Hubungan mereka berdua agak renggang setelah masing-masing beranjak dewasa, dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namun kali ini Franz berniat menjalin kembali hubungan mereka yang sempat terputus. Pertanyaannya, mampukah mereka berdua menghabiskan waktu bersama-sama untuk waktu yang cukup lama ?

Membaca kisah ini pada awalnya berjalan sedikit lambat bagiku, terutama saat halaman-halaman pertama yang berisi curahan hati Franz atas kenangannya terhadap Annie (yang terus terang membuatku sedikit bosan), namun apa yang kau harapkan dari seseorang yang ditinggalkan di altar pernikahan ? Jelas curahan hati ini diperlukan untuk memahami kondisi hati sang penulis. Yang membuatku juga sedikit bingung, karena penulis membuat kisahnya maju-mundur, bolak-balik untuk mengisahkan kejadian / kenangan yang ia bagikan, sesuatu yang juga lama-kelamaan membuat diriku agak jengkel.

[ source ]
Namun begitu memasuki persiapan menuju petualangan berkeliling Eropa, hingga perjalanan panjang yang menjadi semakin diperpanjang (*spoiler-alert* ceritanya mereka berdua nantinya malahan keliling dunia), justru sangat menarik dan mengasyikkan. Berbagai petualangan aneh bin ajaib yang mereka alami, tercurah dalam buku setebal 500 halaman ini. Bukan hanya hal-hal yang menyenangkan saja, melainkan rasa sedih, kecewa, bahkan kejengkelan dan kemarahan semuanya meliputi kisah ini. Termasuk bonus kisah-kisah yang membuat diriku dari tersenyum simpul hingga terbahak-bahak membayangkan kejadian-kejadian tersebut. 

Dari Rusia, mereka ke Denmark, Norwegia, Swedia, Polandia, Austria, Bosnia, Hongaria, Rumania, Bulgaria, Turki, Syria, Yunani, Italia, Swiss, Jerman hingga Belanda...wuihh, asyiknya, dan pasti luar biasa capek --- jika Anda mengikuti tur seperti yang pernah kualami. Namun alih-alih menjalani jadwal tur yang padat dan melelahkan, kedua bersaudara ini memilih berjalan santai, berkeliling tanpa menetapkan batas waktu, sesuka mereka kapan saja bisa sewaktu-waktu pergi mengunjungi tempat lain. Dan karena tak mengikuti jadwal tur, mereka mampu menangkap dan merekam kegiatan serta kejadian yang berbeda, sesuatu yang tak dijumpai saat seorang turis berkunjung lewat wisata tur. 

[ source ]
Tur Keliling Eropa yang berlanjut menjelajahi wilayah Asia (Hawaii, Thailand, Vietnam, Singapura, Bali, Lombok, Kepulauan Komodo). Kemudian perjalanan berlanjut memasuki wilayah Amerika Utara dan Selatan (Mexico, Brasil, Argentina, Chile, Venezuela, Colombia, Peru, Ekuador, Kepulauan Galapagos). Dan rute perjalanan terakhir mereka adalah menjelajahi Afrika (Kenya, Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe, Zambia, Malawi, Tanzania) ... capek ya membayangkan, tapi sungguh sangat mengasyikkan menikmati perjalanan mereka. 

Dan sesuatu yang sangat penting disampaikan oleh penulis, yang sangat-sangat kusetujui, jika Anda hendak melakukan perjalanan keliling dunia (atau separuh bahkan hanya seperempat dunia), tinggalkan peta serta buku-buku panduan tur (dalam hal ini penulis merujuk pada buku seri The Lonely Planet) karena hal-hal tersebut justru menghalangi Anda menikmati perjalanan. 

~ Franz & Kurt Wisner at Oprah's Show ~ [ source ]
Bayangkan jika Anda mengikuti tur beserta rombongan, yang rata-rata berkunjung ke suatu lokasi kemudian berbelanja, dan berpindah ke lokasi lain dan berbelanja lagi, sepanjang hari itulah yang kita lakukan. Tiada sesuatu yang sangat berkesan, sesuatu yang mampu menjadi kenangan lebih. Hasilnya seringkali tubuh capek dan lelah sebelum tur selesai. Well, mungkin jika diberi kesempatan, diriku sungguh ingin kembali ke Eropa, menjelajah tempat-tempat yang menakjubkan tanpa harus mengikuti jadwal tur yang sangat padat, hingga makan pun harus terburu-buru. Buku ini mengingatkn diriku untuk tenang sejenak, ambil nafas, perhatikan sekeliling Anda... just enjoy the time and don’t worry about the past or tomorrow, everything had its place (^_^)

[ more about the author / Franz & Kurt next agenda, search on this link : www.honeymoonwithmybrother.com ]

[ source ]
[ see video from Oprah's Winfrey Show | source : Vimeo


Honeymoon with My Brother from Franz Wisner on Vimeo.

Best Regards,
* Hobby Buku * 

25 comments :

  1. Asyik ya.. tapi apa mereka nggak kekurangan duit ya di tengah jalan? Kan perjalanannya jauh banget. Apa mereka sambil kerja juga pas jalan2?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru buat modal mereka jual rumah + barang-barang yang tidak terpakai, karena mau travelling keliling selama 2tahun :D lalu ada dan-dana simpanan juga. Tapi mrk enjoy juga sbg backpacker.

      Delete
  2. Buku ini nyaris kubeli di hari ulangtahunku. Bimbang antara buku ini, bukunya A. Fuadi dan buku Charlie si jenius dungu.

    Semoga saja buku ini masih ada di toko buku itu >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih ada kok, khan buku baru :D eh ralat, buku yg sdh pernah cetak+rilis, ini edisi cetakan terbaru.

      Delete
  3. aku suka buku ini =) tapi lanjutan buku keduanya agak lebih nggak seru, karena fokus sama masalah cinta2an dibanding travelingnya hehehe...bangga ya, ada indonesia juga termasuk di buku ini!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, meski cmn nyerempet seputar Bali, Lombok, Komodo Island :D sayangnya mrk datang pas Indo lagi ruwet dibwh kepemimpinan awal GusDur, jadi ada image yg tdk terlalu bgs :(

      Delete
  4. Suka cara mereviewnya, lengkaaaaap banget... Jadi enak bacanya, wlo belum baca ni buku, jd penasaran buat baca :)Aku gk bisa2 meresensi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sering dicoba, ini juga dari latihan berulang-ulang kok, awal2nya byk dikritik, tapi dicoba lagi :D

      Delete
  5. Aku baca buku ini tahun lalu sampe bab 2 dan sampe skg mandeg ... karena alurnya yg lambat itu. Kapan2 aku mau lanjutin lagi, kayaknya ceritanya bagus. Mana itu mereka juga mampir ke Indonesia segala, keke

    ReplyDelete
    Replies
    1. awqalnya emang boring and monoton Ky, soalnya khan lagi curhat ceritanya, tapi begitu masuk travelling asyik kok :D lucu-lucu lagi

      Delete
  6. suka cover yang sekarang... kenapa penerbit suka re-cover dengan desain yang lebih yahud #ngelirikcoverlama

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhu sama mbak, makanya aq sempat nanya salah satu penerbit, mau tdk keluarin buku isinya cover aja hahaha *soalnya cover baru uyu-uyu semua*

      Delete
  7. suka ama buku ini. cerita pas gagal menikah itu tragis, tapi adventurenya menyenangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bang, intinya khan memang mengajarkan utk move-on dan maju terus, jgn beratin masa lalu :D

      Delete
  8. keliling travelling pake mobil, ngikutin intuisi! xD sounds really great. untuk seseorang yang kaku dan ter planned seperti franz, itu adalah salah satu impian deh, buatku...

    ReplyDelete
  9. Cover barunya lebih keren ya.
    Tapi, anyway, aku suka buku ini. Salah satu buku non-fiksi yang aku suka, ya yang berbau2 travel. Dan yang keren di sini, patah hati malah bikin penulisnya dapet pengalaman baru... kalo dia jadi married, belum tentu bisa keliling dunia kali ya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, jadi bukannya dikasihani terus jadi 'loser' begitu, tapi bisa ambil hikmah dari putusnya hubungan mereka. Cmn mereka pakai backpacker segala lho (sesuatu yang blm berani aq lakukan ... serem ngebayanginnya)

      Delete
  10. setuju juga enakan traveling sendiri drpd ikut tour rombongan, malah rempong dan nggak bebas krn ada batas waktunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, cmn klo travelling sendiri tapi bukan backpacker mesti punya doku lebih serta pengalaman keliling daerah tersebut. Klo ke eropa yang runyam, ngak bisa bahasanya :( mana mayoritas tdk bisa bahasa Inggris ...

      Delete
  11. wah jadi pengen baca buku ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo dicari dan dibaca, dijamin pengen jalan-jalan abis gitu hahaha

      Delete
  12. asyik yh jj keliling negara" gtu
    sebenarnya itu ipian aku dr kecil semoga aja bisa tercapai seperti mereka :)

    ReplyDelete
  13. Dari dulu pgn baca buku ini tp belum kesampean >,<

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan pesan dan komentar (no spam please), harap sabar jika tidak langsung muncul karena kolom ini menggunakan moderasi admin.
Thanks for visiting, your comment really appreciated \(^0^)/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...