Translate

Friday, March 9, 2012

Books " TWENTIES GIRL"


Judul Asli : TWENTIES GIRL
Penulis : Sophie Kinsella 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjamah : Nurkinanti Laraskusuma 
Editor : Wulan Kusumawardhani 
Desain sampul : eMTe 
Cetakan 1 ; Juni 2010 ; 564 hlm 
Rate : 5 of 5

[ "Resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com" | source from Reading Walk's Library ]

Review :
Mengenal karya Sophie Kinsella lewat sosok Becky Bloomwood dari seri Shopaholic, tokoh utama Lara semula kukira mengalami kemiripan. Namun ternyata sosok unik dan sangat menarik justru ditampilkan lewat tokoh hantu “Sadie” yang kenyataannya merupakan sosok yang digambarkan lebih ‘hidup’ dibandingkan Lara. Sadie bukan tipikal hantu yang menakutkan atau mengerikan. Justru dengan ceria ia berani melakukan apa pun, bahkan memberikan dorongan bagi Lara untuk berani mengambil resiko dalam kehidupannya, termasuk meninggalkan masa lalu yang senantiasa ‘dipegangi’ hingga menjadi jangkar pemberat yang membuat kehidupan Lara tidak maju-maju. 

Kekocakkan adegan Sadie yang merongrong Lara agar ‘menuruti’ kemauannya mengingatkan diriku akan kisah film “GHOST” dimana hantu Patrick Swayze ( sungguh sayang beliau telah meninggal akibat pergulatan dengan kanker ) mengganggu sosok cenayang Whoopi Goldberg agar mau menemui istrinya yang diperankan oleh Demi Moore ( hemm…kisah romantic yang sangat-sangat bagus ). Belum lagi saat Sadie menyuruh Lara ‘menembak-kencan’ Ed Harrisson – cowok keren yang tidak pernah dikenalnya, di tengah-tengah rapat penting di kantor cowok itu, hanya gara-gara Sadie tertarik untuk ‘berkencan’ dengannya … (duh… kocak banget, bagaimana strategi dan cara Sadie melakukan aksinya dengan perantaraan Lara). 


Books : "SUZANNE'S DIARY FOR NICHOLAS"


Judul Asli : SUZANNE'S DIARY FOR NICHOLAS

Copyright © 2001 by James Patterson

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Alih Bahasa : Monica Dwi Chresnayani

Cover by Marcel A.W.

Cetakan ke-01 : Desember 2002 , 312 hlm

Rate : 5 

Sinopsis :                             
Kisah ini dibuka dengan keadaan Katie Wilkinson yang sedang terluka hati dan jiwanya. Sebelumnya ia adalah seorang gadis yang sibuk dengan karirnya sebagai editor suatu penerbitan di New York. Sampai suatu hari ia bertemu dengan penulis puisi yang bukunya hendak diterbitkan lewat kantornya. Dan disanalah mereka bertemu - Katie dan Matthew 'Matt' Harrison, kemudian mereka saling jatuh cinta dan tak dapat melepaskan diri satu dengan yang lain.

Pada malam tanggal 18 Juli, ia sedang menyediakan makan malam istimewa untuk sang kekasih dan hendak memberikan kejutan atas keberhasilan penerbitan buku Matt yang pertama serta kejutan pribadi yang telah dipersiapkan dengan sepenuh hati. Namun saat istimewa berubah menjadi bencana, saat Matt datang hanya untuk mengatakan bahwa mereka putus dan takkan akan dapat berjumpa kembali. Katie bukan saja mengalami shock tapi juga terluka karena tiada penjelasan dari Matt. Setelah hampir sebelas bulan mereka bersama, bahkan ia yakin bahwa mereka akan berlanjut ke pelaminan – ternyata Impian tersebut musnah dalam sekejap mata. Dan yang membuat hatinya terasa sakit, kejutan yang hendak disampaikan pada Matt namun tak terlaksana – Katie telah hamil !

Keesokkan harinya, dalam keadaan patah hati dan semangat menurun, Katie mendapat kejutan berupa paket yang dikirim ke tempat tinggalnya. Paket tersebut dari Matt. Walau ingin melempar paket tersebut demi melampiaskan sakit hatinya, namun akhirnya ia memutuskan membuka untuk mengetahui isinya. Ternyata sebuah buku harian kecil dengan tulisan yang tak dikenalnya di sampul 'Buku Harian Suzanne untuk Nicholas', disertai surat untuk Katie dari Matt yang bertuliskan :

Katie sayang,
Tidak ada kata maupun perbuatan yang dapat melukiskan perasaanku sekarang. Maafkan aku karena telah membiarkan semua ini terjadi di antara kita. Semuanya salahku, tentu saja. Akulah yang harus dipersalahkan. Kau sempurna, baik, cantik. Ini bukan karena kau. Tapi karena aku.
Mungkin buku harian ini bisa dengan lebih baik menjelaskan semua yang tidak bisa kujelaskan. Kalau kau bersedia, bacalah.
Buku ini bercerita tentang istri dan anak lelakiku, juga aku.
Namun, aku harus mengingatkan bahwa ada bagian-bagian tertentu yang mungkin berat bagimu untuk dibaca.
Aku tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta padamu, tapi itulah yang terjadi.
Matt

Rasa sakit di hati membuatnya marah dan ragu-ragu untuk membaca buku tersebut, namun rasa penasaran dan keingin-tahuan untuk memperoleh jawaban atas tingkah laku Matt, alasan kenapa hal ini terjadi pada dirinya - maka Katie mulai membuka dan membaca lembaran tulisan buku harian Suzanne – istri Matt yang ditulis untuk Nicholas – putra mereka.

Kesan :
" Pembaca yang baik, untuk kali ini saya tidak akan mengungkapkan isi buku harian tersebut, karena keindahan yang menyentuh hati tertuang dalam kata-kata lewat tulisan Suzanne kepada Nicholas. Buku harian tersebut mengungkapkan bukan saja latar belakang Suzanne, Matt, & Nicholas, tapi juga menjembatani terbentuknya hubungan diantara masing-masing individu bahkan turut meraih si pembaca, Katie kedalamnya – termasuk anda, jika memutuskan turut membaca menemani Katie dalam pencarian akan cinta kasih. Ini karya James Patterson yang benar-benar berbeda, dengan cara penyampaian yang berbeda – mengingatkan saya akan karya-karya Nicholas Sparks yang senantiasa mampu menyentuh emosi pembaca lewat kata-kata yang dituang dalam tulisan.

Dari sosok Suzanne, kita memperoleh pelajaran bahwa masa lalu bukanlah untuk disesali seburuk apapun kondisinya, bahkan dengan selalu mengawali & menutup kisahnya setiap saat dalam buku harian 'betapa beruntungnya atas secercah kebahagian menyertai hari ini' – just how lucky I'm even for just a litte things.
Dan lewat karya ini seakan penulis mengajak kita untuk memahami bahwa kepedihan bukanlah sesuatu yang harus ditanggung sebagai beban dalam kehidupan – namun jadikan alasan utama untuk bersyukur & meraih kehidupan yang jauh lebih baik di masa yang akan datang, bukan dari kuantitas waktu tapi kualitas yang dijalani pada setiap detik nafas di dunia yang luar biasa. It's really great story about love, sadness, painful-feelings, to honor & dignity about yourself and each others around your life. Just enjoy it!  "

Best Regards, 
* HobbyBuku *

Books : "MAN and BOY"


Judul Asli : MAN and BOY ( book 1 of "Harry Silver Series" )
Copyright © 1999 by Tony Parsons
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Kathleen S.W.
Cover by Eduard Iwan Mangopang
Cetakan ke-01 : November 2007 , 472 hlm
Rate : 3,5 of 5

[ "Resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com" | source from Reading Walk's Library ]
" Mengapa banyak lelaki berselingkuh? Karena mereka punya kesempatan. Berselingkuh juga berarti seks tanpa komitmen. Dan nikmatnya seks tanpa komitmen jangan pernah dianggap remeh. Yang kulakukan sekarang adalah seks tanpa komitmen yang tersedia di depan mata. Itulah yang paling menarik bagiku. "

Maka Harry Silver pun berselingkuh. Hanya sekali. Tapi apakah kalau hanya sekali, hanya semalam, bisa dimaafkan dan dilupakan begitu saja?

Menjelang ulang tahunnya ke-30, Harry Silver boleh dikatakan telah mencapai masa-masa keemasan dalam hidupnya. Kehidupan yang bahagia dengan istri yang cantik serta putra tampan dan mereka saling mengasihi. Sukses dalam pekerjaan sebagai eksekutif produser acara televisi yang menduduki peringkat tinggi dan lingkungan kerja yang sangat disukainya. Sungguh pencapaian luar biasa sebagai anak pemalu dari kota kecil dari keluarga biasa-biasa saja. Banyak orang iri dengan kehidupan dirinya yang menjadi Impian semua orang. Akan tetapi Harry Silver justru merasa ada sesuatu yang kurang dalam hatinya – sesuatu yang sangat diinginkan dan tidak dapat diperoleh dalam kehidupannya sekarang.


Books : "THE VILLAGE BRIDE OF BEVERLY HILLS"


Judul Asli : THE VILLAGE BRIDE OF BEVERLY HILLS
Copyright © 2004 by Kavita Daswani
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Gita Yuliani K.
Cetakan ke-01 : Juni 2008 ; 336 hlm
Rate : 3,5  

Sinopsis Cerita :
Ini adalah kisah tentang seorang wanita yang hidup dalam lingkungan adat & budaya tradisional yang masih kental di jaman modern, memperjuangkan kebahagiaan & cinta dalam hidupnya serta mempertahankan nilai-nilai moral & harga dirinya sebagai manusia.

Priyanka – dikenal dengan ‘Priya’ , gadis India yang diberi nama sesuai putri tunggal Rajiv & Sonia Gandhi ( mantan perdana menteri India yang terbunuh ) , percaya bahwa nama yang diberikan oleh orang tuanya yang membuat dirinya menikah pada usia 24 tahun, mendahului ketiga kakaknya.  Priya menikah dengan Sanjay Sohni melalui sistem perjodohan tradisional India, lewat perantara, setelah bertukar foto & saling bertemu selama 1 minggu, masing-masing pihak & keluarga setuju untuk melangsungkan pernikahan. Maka jadilah Priya pengantin baru & sebagai seorang istri, ia wajib mengikuti suaminya kembali ke Los Angeles, Amerika.

Berada ribuan mil berjauhan dari sanak & keluarganya, Priya belajar menyesuaikan diri hidup di kota yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Dan tugasnya tidak semakin ringan karena sebagai menantu Hindu yang taat, maka ia wajib melakukan semua tugas rumah tangga, mulai dari berbelanja di supermarket, memasak makanan untuk sekeluarga, membersihkan rumah setiap hari serta melayani kebutuhan keluarga Sanjay … ya, benar sekali – mereka tinggal serumah dengan kedua orang tua Sanjay beserta adik perempuan Sanjay bernama Malini.

Belum selesai Priya menjalani kehidupan baru di Los Angeles, ibu mertuanya menyuruh Priya mencari pekerjaan – ini  karena ia belum hamil juga ( bagaimana mungkin hamil dalam waktu singkat ) & biaya hidup di Amerika sangat tinggi. Namun sekali lagi Priya menurut & mencari pekerjaan. Setelah keluar-masuk berbagai tempat, akhirnya Priya memperoleh pekerjaan sebagai resepsionis di Hollywood Insider – sebuah perusahaan majalah selebriti terkenal.

Di tempat kerja baru, Priya berusaha beradaptasi & menyesuaikan diri, namun kendala yang dihadapi bukan hanya karena ia karyawan baru, tetapi lebih pada sorotan dirinya yang dianggap asing & aneh. Usaha tersebut mendapat kendala terutama dalam hal pakaian & dandanan Priya yang tidak sesuai dengan lingkungan kerja ( berpakaian tradisional sari, potongan rambut serta bubuk pewarna dikepalanya, tentu saja sangat berbeda ), namun saat Priya mencoba menggunakan pakaian & dandanan ala Barat, mertuanya ‘memarahi’ & mengingatkan bahwa menantu mereka tidak boleh meninggalkan adat-istiadat tradisional ( padahal mereka telah tinggal bertahun-tahun di Los Angeles ).

Untunglah sahabat baru Priya bernama Shanisse – asisten Lynette Dove ( = orang penting yang memiliki kekuasaan di Hollywood Insider ) , bersedia membantu memecahkan masalah tersebut, terutama setelah Priya menjadi bahan tertawaan seluruh kantor setelah muncul dengan pakaian & dandanan mutakhir ala Barat berkat ‘kemurahan hati’ ibu mertuanya yang memberikan simpanan rahasia pakaian miliknya ( yang ternyata ketinggalan jaman duapuluh tahun lampau ).

Maka rutinitas Priya mengalami perubahan, setiap pagi subuh ia bangun menyiapkan makanan & perlengkapan bagi keluarganya ( yang masih pada terlelap ), bersiap-siap dengan perbekalan pribadi, berangkat ke kantor dengan pakaian yang disarankan mertuanya, kemudian ia mampir dulu ke klub gym & berganti dengan pakaian modern yang telah dibeli dengan bantuan saran Shanisse, baru kemudian menuju kekantor. Demikian pula sepulang kantor ia harus mampir kembali ke gym untuk berganti pakaian, baru menuju kerumah & menyiapkan makan malam bagi keluarga Sanjay. ( Pheuww … membaca saja bisa bikin capek, tak terbayangkan dech ).

Rutinitas tersebut tetap akan berjalan seandainya tidak terjadi peristiwa yang akan membalik kehidupan Priya. Demi menolong Shanisse yang berhalangan, suatu hari Priya harus menyamar sebagai reporter menemui bintang film terkenal – Rex Hauser. Wawancara yang sedianya berlangsung mulus, rusak akibat Rex yang dalam keadaan mabuk berat – mengoceh tentang hal-hal yang seharusnya tidak dibeberkan. Priya – bukan reporter asli, namun masih memegang nilai-nilai moral menolak saran Shanisse untuk meng-ekspose hal tersebut demi sejumlah uang pada tabloid.

Dan akibatnya sungguh tak terduga karena Rex Hauser yang merasa berhutang budi beserta agen publisisnya Sandra Krugman menyebarkan informasi bahwa ada reporter yang dapat diandalkan di Hollywood Insider bernama Priya Sohni – dan hal ini membawa Priya dihadapan Cripin Bailey, pemilik & pendiri Hollywood Insider. Dalam sekejap Priya Sohni yang bekerja sebagai resepsionis, naik status sebagai wartawan eksklusif di Hollywood Insider yang bekerja langsung di bawah pengawasan Cripin Bailey ( hampir setara dengan status Lynette Dove ). Ini adalah Impian Priya sedari dulu, menjadi seorang wartawan – hanya ada kendala besar, mertuanya sejak awal telah melarang dirinya bekerja sebagai wartawan / reporter. Maka walaupun sangat bahagia & bersemangat, Priya harus merahasiakan promosi dirinya dari suami serta keluarganya.

Perkembangan karir Priya harus ditebus dengan kehilangan sahabatnya Shanisse, yang iri dengan nasib baik Priya, apalagi setelah Lynette kembali dari cuti liburan & mendapatkan saingan baru yang tak memiliki ‘kemampuan & keahlian’ khusus mampu berada posisi yang dianggap mengancam kekuasaannya. Priya belajar untuk mandiri & berjuang di atas kakinya sendiri membuktikan kemampuan diri sebenarnya. Apalagi ia benar-benar menyukai pekerjaan barunya. Namun perkembangan karir tidak sejalan dengan perkembangan hubungannya dengan Sanjay, bahkan Priya merasa kelabakan dengan kehidupan ganda yang harus dijalani, merahasiakan sesuatu yang menjadi kebanggaan dirinya. Di lingkup pekerjaannya ia adalah Priya Sohni, wartawan berbakat di bawah bimbingan langsung Crispin Bailey, memiliki kenalan & relasi bintang-bintang papan atas Hollywood. Namun di rumah ia hanyalah sekedar ‘pesuruh’ yang melayani keluarga Sanjay & yang membuatnya semakin terpuruk adalah ketidak peduliaan Sanjay, suaminya yang lebih takut mengecewakan kedua orang tuanya dibandingkan perasaan Priya. Keretakan dalam hubungan mereka berdua semakin dalam ( setidaknya itu yang dirasakan oleh Priya ) bahkan terapi & serta konsultasi hubungan antar pasangan yang dicoba dilakukan tidak berhasil karena penolakkan Sanjay.

Akhirnya Priya sampai pada suatu titik dimana ia harus mengambil keputusan penting dalam hidupnya – saat ia harus memutuskan tetap bertahan atau memulihkan jati diri sebenarnya sebelum hilang di tengah rutinitas & ketidakpedulian di kota besar.

Kesan :
Sekilas buku ini cukup tipis, namun lewat penuturan penulis, pembaca mampu menikmati penggambaran kehidupan sosok wanita Hindu-India melalui Priya. Adat & kebiasaan kaum Hindu-India penuh dengan warna-warni yang memukau namun sejak jaman dahulu hingga saat ini, merupakan mayoritas bahwa kaum wanita menempati posisi terendah di kalangan mereka. Bahkan jika hendak menikah, pihak kaum wanita yang harus memberikan mas kawin yang cukup tinggi bagi pihak keluarga pria. Ini juga mengapa banyak terjadi peristiwa kekerasan dalam rumah tangga menimpa kaum wanita, terutama jika pihak keluarga wanita tak mampu menyediakan mas kawin yang tinggi, maka selamanya sang wanita akan dianggap rendah sesuai dengan nilai mas kawin tersebut oleh pihak keluarga pria.

Dalam kisah tokoh Priya, ia cukup beruntung karena kedua orang tuanya membesarkan keempat putri mereka dengan ajaran kasih, nilai moral-kebanggaan yang tak mengecilkan harga diri mereka masing-masing. Bahkan berhadapan dengan kondisi keluarga Sanjay, kedua mertua Priya masih dianggap sudah cukup modern & tidak ‘keterlaluan’ dalam memperlakukan menantu mereka ( jika dibandingkan dengan kehidupan jaman lampau ).

Namun Priya yang terjepit dalam dua situasi yang bertolak belakang, terlihat mampu mengatasi satu demi satu kendala dalam kehidupannya. Sebagai wanita yang dituntut tetap mengikuti adat & cara tradisional namun juga harus terjun dalam kehidupan modern, berhadapan dengan isu-isu tentang etika, moral & kejujuran dalam pekerjaan, dalam rumah tangga, dalam hubungannya sebagai bagian dari suatu keluarga dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Kisah ini saat menarik & membuat kita terpukau pada kenyataan bahwa sebenarnya kehidupan ini pun juga masih dialami oleh kaum wanita di mana pun berada, terlepas dari adapt-istiadat maupun keyakinan yang berbeda. Hanya ada sedikit ganjalan yang patut disayangkan, dimana penulis seakan-akan ‘memotong’ kisah dimana Priya masih berkutat dengan kerumitan kehidupan ganda yang dijalaninya, kemudian mendadak ia telah berada kembali pada keluarganya di India, seakan-akan kisahnya dipercepat pada penyelesaian – akhir buku. Seandainya sedikit diperhalus & dikembangkan lebih dalam, bukan tidak mungkin kisah kehidupan Priya beserta keluarganya menjadi suatu kisah tersendiri yang tidak kalah dengan kisah tokoh ‘Meggie Cleary’ dalam The Thorn Birds yang fenomenal. Maka kita cukup puas dengan penyelesaian dalam 336 halaman buku ini – bacaan ringan & menyentuh serta kaya akan variasi pemahaman nilai kehidupan yang berharga.

Best Regards, 
* HobbyBuku * 
 

Books : "QUEEN OF BABBLE"


Judul Asli : QUEEN OF BABBLE  
( book 1 of  "Queen of Babbles Series" )
Penulis : MEG CABOT
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Barokah Ruziati
Rate : 3 of 5

Review :
Melihat buku yang mungil, semula kusangka hanya sekedar kisah romansa ringan belaka, ternyata Meg Cabot yang lebih kukenal lewat kisah-kisah Teenlitnya, mampu menghadirkan kisah yang lebih dewasa, namun keriangan serta sentilan komedi satir disana-sini, mampu memberikan nuansa menyenangkan yang cukup menarik untuk dinikmati. Tokoh Lizzie yang suka ‘mengoceh’ ini mengingatkan daku akan sahabat semasa SMP, sosok yang suka banget bicara ( tentang apa saja ) bahkan tak pernah bisa diam ( kecuali lagi tidur, bahkan saat makan pun sebisa mungkin membagi waktu antara tarik napas dan mengoceh, he3x ). Meski kadang sebal karena dirinya yang tidak bisa diam, namun membaca kisah ini membuatku merindukan ocehan-nya, karena seperti sosok Lizzie, dirinya bukan sekedar ‘narsis’ yang hanya suka ngoceh tentang dirinya, tapi beliau memang suka berinteraksi dengan siapa saja yang ada disekelilingnya. 

Meski terkadang suka ‘bocor’ ( tanpa sengaja, karena kebiasaan ngocehnya bisa ngelantur kemana-mana ), namun ia senantiasa berusaha memperbaiki kesalahan ( jika terjadi ) dan tidak segan-segan langsung turun tangan membantu orang-orang yang membutuhkan. Untuk “My Queen Of Babble” … kupersembahkan kilasan kisah ini dan berharap dunia ini ada Lizzie-Lizzie lain yang mampu memberikan sedikit keceriaan & keramaiaan dalam suasana yang menjemukan …

Sinopsis :
Elizabeth “Lizzie” Nichols, sedang merayakan kelulusannya bersama keluarganya sambil bersiap-siap berangkat berlibur ke London, guna menemui pacarnya yang keren : Andrew. Meski ditentang oleh sahabatnya Shari yang mengajaknya bepergian ke Paris, Lizzie tetap bersikukuh berangkat ke Inggris seorang diri.

Namun liburan yang semula dibayangkan penuh dengan suasana romantic & adegan memukau, harus dihapus dengan kenyataan yang sangat-sangat bertolak belakang dari bayangan Lizzie. Pertama, ia ternyata ‘belum lulus’ ( meski sudah dirayakan ) dan harus menyelesaikan tesis sebagai syarat kelulusan. Kedua, Andrew tidak mengenal dirinya ( kegemaran maupun ketidak-sukaan Lizzie dicampur-adukan ), dan keluarga Andrew mengira dirinya cewek yang sangat Gendut ( yang memang dulunya, namun ia sudah diet hingga menjadi kurus 7 langsing ). Ketiga, Andrew ternyata tidak sekeren yang dibayangkan, ia tinggal di rumah orang tuanya ( bukannya apartemen pribadi ), ia tidak bekerja sebagai guru yang membaktikan dirinya menolong anak-anak ( bekerja sebagai pramusaji ) bahkan mencoba melakukan penipuan dengan mengajukan permohonan tunjangan bagi pengangguran !!!

Lizzie yang ‘shock’ dengan kenyataan itu, akhirnya memutuskan lari meninggalkan London & menyusul Shari & Chaz – cowoknya, di Paris, tepatnya ke Chateau Mirac – kastil di mana Luke, putra pemiliknya  adalah sahabat dekat Chaz. Lizzie yang nekat berangkat dengan kereta api, dalam keadaan kacau-balau, bertemu dengan cowok keren & simpatik bernama Jean-Luc de Villiers, yang bersedia membantu & mendengarkan ‘ocehan’ serta curahan hati Lizzie yang suka ‘kumat’ jika sedang dalam kondisi stress. Dan kebiasaan ‘mengoceh’ Lizzie membawanya pada semua rahasia hatinya yang dipendam selama beberapa hari, semuanya tercurah pada sosok asing yang ditemuinya di kereta api. Dan tanpa disadari, mereka berdua saling menikmati perjalanan enam jam dengan pertemanan meraka yang baru. Hingga saat kereta api berhenti di tujuan, di Prancis Selatan, maka Lizzie menghadapi bahwa masalah-masalah baru telah menunggunya … 

Tentang Penulis :
Meg Cabot ( nama aslinya Meggin Patricia Cabot ), lahir di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat pada tanggal 1 Februari 1967. Ia merupakan penulis Amerika yang sangat produktif dalam menulis dan telah menghasilkan lebih dari 50 judul buku. Karyanya yang terkenal diantaranya seri The Princess Diaries, yang telah diangkat ke layar lebar oleh Walt Disneys Pictures dengan judul yang sama. Kemudian seri Mediator  tentang remaja yang memiliki kemampuan supranatural, serial detektif lewat Heather Wells Mystery, serangkaian chicklit, historical romance dan tentu saja seri Underworld yang merupakan adaptasi dari kisah Mitologi Yunani yaitu Persephone yang diculik oleh Hades – dewa penjaga gerbang kematian, dan dipaksa menemaninya tinggal di Underworld. Meg Cabot telah memperoleh banyak penghargaan atas karya-karyanya, hingga kini buku-bukunya terjual lebih dari 15 juta kopi, dan ia masih tetap giat menulis sampai kapan pun ...

[  more about Meg Cabot & her books, visit at Meg Cabot  ]
Best Regards,
* HOBBYBUKU *

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...