Translate

Showing posts with label Cultural Fiction. Show all posts
Showing posts with label Cultural Fiction. Show all posts

Wednesday, February 27, 2013

Books "GADIS PANTAI"




Judul Asli : GADIS PANTAI
Copyright © by Pramoedya Ananta Toer 2003
Penerbit Lentera Dipantara
Desain sampul : Tugas Suprianto
Cetakan VII : September 2011 ; 272 hlm
Rate : 4 of 5

Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu : kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup. [ p. 12 ]
Gadis Pantai berusia 14 tahun ketika ia diambil sebagai selir seorang pembesar Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Semua penduduk desa nelayan menganggapnya beruntung karena terpilih dari sekian banyak gadis-gadis kalangan bangsawan. Namun Gadis Pantai ketakutan dan tak menyukai bahwa ia harus hidup terpisah dari keluarganya, karena kaum ningrat tidak boleh hidup berdampingan dengan golongan rakyat jelata. Hidup dalam gelimang harta benda serta tak boleh lagi bekerja agar kulitnya yang kuning langsat semakin putih dan halus, segala sesuatu disiapkan oleh para pelayan, bisa memperoleh apa pun yang diinginkan, itu adalah Impian setiap orang, maka sungguh bodoh jika menolak rejeki di depan mata – demikianlah pandangan umum.
“Perempuan ini diciptakan ke bumi, Mas Nganten, barangkali memang buat dipukul lelaki. Karena itu jangan bicarakan itu, Mas Nganten. Pukulan itu apalah artinya kalau dibandingkan dengan segala usahanya buat bininya, buat anak-anaknya.” [ p. 95 ]
Namun realita kehidupan sungguh sangat berbeda. Pernikahan yang terjadi bukanlah suatu ‘pernikahan’ antara pria dan wanita yang saling mengasihi dan berjanji sehidup-semati. Gadis Pantai hanyalah alat untuk memenuhi tujuan Bendoro Agung, dan jika tujuan itu telah tercapai maka ia akan dipindahkan ke tempat lain, demikian pula jika terjadi kegagalan, maka ia akan dikembalikan ke pihak keluarganya. Gadis Pantai yang cantik dan ceria, harus merubah seluruh kebiasaan serta pola pikir mengikuti aturan serta tata krama kaum ningrat. Yang menyakitkan bukan hanya proses pembelajaran yang sulit, melainkan perlakuan serta pandangan para penghuni kediaman Bendoro. Kerabat Bendoro memandang rendah dirinya, meski kini ia dipanggil Bendoro Putri, tetapi asalnya tetap gadis dusun yang bodoh. Sedangkan para pelayan sebagian besar iri dan dengki melihat salah satu anggota miskin mampu naik ke posisi terhormat.
“mBok apa yang salah pada diriku?”
“Salah Mas Nganten seperti salah sahaya, salah kita, berasal dari orang kebanyakan. Kita sudah ditakdirkan oleh yang kita puji dan kita sembah buat jadi pasangan orang atasan. Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.”
“Aku ini, mBok, aku ini orang apa? Rendahan? Atasan?”
“Rendahan Mas Nganten, maafkan sahaya, tapi menumpang di tempat atasan.” [ p. 99 ]
[ source ]
Gadis Pantai kesepian dan ketakutan, hanya ada satu orang yang cukup perhatian dan mengasihinya, bujang pelayan yang dengan setia mendampingi serta memberi petunjuk bagaiman ia harus melakukan tugasnya sebagai Bendoro Putri. Hingga suatu saat, terjadi peristiwa yang menyebabkan pertengkaran dan konfrontasi antara Gadis Pantai dan kerabat Bendoro. Sebuah pencurian. Siapa yang telah melakukannya ? Pasti bukan orang luar karena terjadi di dalam kamar Bendoro Putri. Namun bagaimana Gadis Pantai mampu melawan ‘konspirasi’ yang dibuat untuk menyingkirkan dirinya ? Satu-satu orang yang berani berkata tentang kebenaran, membela dirinya, akhirny disingkirkan jauh-jauh, tak pernah lagi ia jumpai. Seorang diri, Gadis Pantai atau Bendoro Putri, tertatih-tatih menemukan jalan keluar setiap hari dalam kehidupannya, berusaha mencari kebahagiaan yang sedikit demi sedikit direnggut oleh kehidupan kaum ningrat. Ia harus waspada karena ‘musuh dalam selimut’ berada di sekelilingnya.
“Kelahiran sahaya sudah satu hukuman! Ia meradang – apakah dosa suatu kelahiran di tengah-tengah orang kebanyakan? Mengapa? Pelayan itu telah pergi. Kini ia harus berpikir sendiri. Dan dalam usia tidak lebih dari 16 tahun. Ia mengerti semua itu dengan perasaannya, dengan tubuhnya, dengan jantungnya.” [ p. 133 ]
Sebuah kisah yang cukup sederhana tentang perbedaan derajat dan jenjang sosial antara kaum miskin dan kaum bangsawan di kehidupan masyarakat Jawa. Sebagai keturunan bangsawan atau ningrat, acapkali mereka dianggap memiliki kelebihan – berdarah biru, yang berarti tidak boleh bercampur dengan golongan rakyat jelata. Gadis Pantai, adalah sosok yang memiliki perbedaan, dikarunia paras yang cantik dan menawan, ia bagaikan berlian di tengah kehidupan nelayan miskin, yang bersinar terang hidup dengan penuh kegembiraan di tengah kesulitan dan tantangan kehidupan. Seorang pembesar berniat ‘mengambil’ berlian itu untuk disimpan dalam kotak tertutup. Tiba-tiba sinar terang yang cemerlang itu semakin lama semakin redup, meski dirawat, dibersihkan dan diletakkan dalam perlindungan kotak yang mewah. Bagi Gadis Pantai, kerasnya kehidupan sebagai nelayan miskin lebih kuat ia tanggung daripada kehidupan mewah yang terkukung di dalam ‘kotak-besar’ kediaman sang pembesar. 

Bukan hanya kebebasannya dirampas, harkat serta martabat dirinya sebagai seorang wanita, sebagai manusia yang sederajat, direndahkan dan diinjak-injak hari demi hari. Jika pertama kali ia masuk sebagai gadis lugu yang bodoh, perlahan ia mulai memahami bahwa perbedaan antara yang terlahir sebagai rakyat jelata dan terlahir sebagai kaum ningrat, tak akan mampu dijembatani. Hati nuraninya berontak keras, meski ia tidak mampu membaca atau menulis, tapi ia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Akan tetapi hukum serta tata krama mengikat dirinya untuk ‘mengeluarkan-suara-kebenaran’ – ia berada di tengah-tengah, terjepit antara kaum jelata dengan kaum ningrat, karena statusnya tidak diakui di kedua belah pihak. Dan yang lebih mengerikan, kaum wanita seperti dirinya, hanya merupakan komoditas – sarana bagi kaum pria, terutama bangsawan untuk memperoleh keturunan. Setelah melahirkan, ia akan ‘dibuang’ dan anaknya akan dirampas sebagai bagian dari keluarga bangsawan. Bahkan sapi perah masih lebih diakui keberadaannya daripada wanita-wanita seperti ini. 

Pram menuliskan kisah ini sebagai dedikasi atas perjuangan kehidupan sang nenek yang dikasihinya. Figur nenek yang berjuang demi kelangsunga kehidupan keluarganya, membanting tulang mencari nafkah dengan segala cara yang diangggap halal, merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang meninggalkan jejak dalam di hati Pram. Dan sorotan keras terhadap gaya kehidupan feodal bangsawan Jawa, mewarnai setiap dialog dan argumentasi dalam kisah ini. Dengan gaya narasi yang acapkali digambarkan sebagai jeritan hati Gadis Pantai, kita dibawa menelusuri kehidupan mewah di balik tembok tinggi menjulang dan tertutup. Meski disana-sini beliau menggunakan bahasa daerah, namun nampak suatu kehalusan tutur kata serta budi pekerti lewat sosok sederhana Gadis Pantai dan pelayan setianya. 

Yang patut disayangkan, ksaih yang merupakan trilogi ini, sempat lenyap-hilang tanpa bekas akibat larangan pemerintah dan vandalisme Angkatan Darat pada era tahun 60-an. Dan hanya bagian pertama dari trilogi ini yang berhasil diselamatkan oleh Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra, melalui dokumentasi Savitri P.Scherer – seorang mahasiswi yang mengambil tesis seputar proses penulisan Pram. Bagaimana kehidupan Gadis Pantai setelah dibuang oleh kaum bangsawan, tak mampu kembali ke dunia keluarganya, meninggalkan anak yang telah dikandung dan dilahirkan dengan susah payah, kemudian dirampas dan disembunyikan dalam tembok tinggi tertutup ? Tanpa dapat mengetahui secara pasti kelanjutan kisahnya, diriku yang baru pertama kali membaca karya Pram ini, tak meragukan bahwa apa pun yang terjadi, tulisan Pram akan menimbulkan jejak yang dalam di benak pembacanya – salah satunya adalah diriku. 

[ source ]
[ more about the author and related works, visit at here : Pramoedya Ananta Toer ]

EVENT POSTING BERSAMA BBI - Tema : PRAM's ANNIVERSARY

List of Participants : 
Best Regards,
* Hobby Buku * 

Wednesday, October 17, 2012

Books "HOMELESS BIRD"



Judul Asli : HOMELESS BIRD
Copyright © 2000 Gloria Whelan
Copyright © 2012 Penerbit Serambi Ilmu Semesta
Penerbit Atria (Imprint Serambi)
Alih Bahasa : Ida Wajdi
Editor : Jia Effendie & Fenty Nadia
Ilustrasi & Desain Sampul : Asa Laily & Aniza Pujiati
Cetakan I : September 2012 ; 182 hlm
Rate : 3,5 of 5

 [ source ]
Buku ini lumayan tipis dan dengan warna ‘blewah’ yang manis serta ilustrasi menarik, dan tema tentang budaya kehidupan kaum wanita di India, mengundang diriku untuk menelusuri lebih lanjut. Seperti juga A Single Shard karangan Linda Sue Park yang mampu memberikan suatu ‘kesan’ tersendiri bagi penyuka kisah-kisah berkualitas seperti diriku, maka Homeless Bird ini juga memberikan pesan yang tak mudah dilupakan, di luar praduga bahwa buku setipis ini mampu menyajikan kisah kehidupan dramatis di dunia nyata.  

Ini adalah kisah tentang Koly, gadis cilik yang baru berusia 13 tahun namun sudah harus menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga, jauh dari sanak keluarganya. Sebagaimana kehidupan masyarakat India, seorang putri dalam suatu keluarga bisa menjadi beban serta aib jika tak mampu menarik minat keluarga lain untuk mengambilnya sebagai seorang istri bagi putra-putra mereka. Dan beban itu semakin bertambah saat dua keluarga setuju untuk menikahkan putra-putri mereka, beban yang dipikul oleh pihak wanita karena mereka harus ‘membayar’ sejumlah mas kawin kepada pihak keluarga pria. 

[ source ]
Koly yang hidup seadanya dengan ayah, ibu serta kedua kakak laki-lakinya, meski miskin, namun ia bahagia, serta memahami beban keluarganya, jika ia tak menerima lamaran tersebut. Mengumpulkan segenap simpanan uang serta perhiasan, mereka mampu membekali Koly untuk menjadi pengantin keluarga Mehta. Koly terbiasa hidup sulit dan bekerja keras, namun ada satu impian yang tak bisa ia raih, belajar serta bersekolah, karena tiada biaya untuk memberikan ‘keistimewaan’ tersebut bagi seorang gadis yang nantinya hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga. 

Thursday, August 9, 2012

Books "ISTANA MIMPI"


Books “THE PALACE OF DREAMS”
Judul Asli : NEPUNESI I PALLATIT TE ENDRRAVE 
( pada tahun 1981 di Albania )
Copyright © Librarie ArthĂ©me Fayard 1990
Penulis : Ismail Kadare
Penerbit Serambi Ilmu Semesta
Alih Bahasa : Fahmi Yamani
Editor : Adi Toha & Dian Pranasari
Cetakan I : Juni 2012 ; 274 hlm 

Mark-Alem, pemuda keturunan keluarga Quprili – salah satu garis keturunan keluarga yang usianya sangat tua, yang berpengaruh besar semasa pemerintahan Kekaisaran Ottoman. Namun pada pagi ini, saat hari pertama ia akan bekerja, kebanggaan serta nama keluarganya menjadi sebuah beban tersendiri. Mark-Alem akan bekerja di Tabir Sarrail atau Istana Mimpi, wilayah yang paling rahasia serta tertutup, namun memiliki peran besar dalam Kekhalifahan. 

Meski belum memiliki pengalaman khusus, Mark-Alem langsung diterima di bagian Penyortiran, tanpa harus menempuh jalur jenjang karir dari bawah, misalnya Penerimaan atau Penyalinan. Meski menduga bahwa nama keluarganya sedikit berpengaruh terhadap keputusan itu, ia tetap tak mampu mengenyahkan ‘wejangan’ serta ‘peringatan tajam’ yang diberikan oleh pejabat penerimanya, dari benaknya. 

“Kamu akan bekerja di bagian Penyortiran karena kamu cocok untuk kami. Dan ingat, bahwa yang diharapkan darimu adalah kerahasiaan sepenuhnya. Jangan pernah lupakan bahwa Tabir Sarrail adalah sebuah institusi yang benar-benar tertutup untuk dunia luar.”
( from ‘Istana Mimpi’ by Ismail Kadare | p. 22 )

Tugas Mark-Alem di bagian Penyortiran adalah memilah-milah setiap mimpi yang masuk  dari penjuru negeri. Mulai dengan mengeliminasi mimpi-mimpi yang tidak menarik, mimpi-mimpi pribadi yang tidak berhubungan dengan pemerintah.  Kemudian mimpi-mimpi yang berhubungan dengan hawa nafsu manusia, seperti rasa lapar atau kenyang, dingin atau panas, dan sejenisnya. Lalu ada pula mimpi-mimpi palsu, yang tidak pernah terjadi dan diciptakan oleh orang-orang ambisius, gila mitos atau seorang provokator. Semuanya harus dilenyapkan. Namun tidak mudah membuat klasifikasi dari campuran unsur-unsur yang berbeda-beda. Dibutuhkan pengalaman serta kedewasaan dalam cara berpikir. Dan Mark-Alem harus segera menguasai kemampuan tersebut. 

Dalam beberapa hari kedepan, Mark –Alem berusaha mencari dan menyerap berbagai pengetahuan yang dapat membantu dirinya lebih memahami serta menguasai pekerjaannya. Ia mendapati selain divisi Penyortiran, masih ada divisi yang sangat rahasia yaitu Tafsir – dimana mimpi-mimpi yang sudah disortir akan dicari makna-maknanya lebih dalam, dan setiap hari Jumat, Pegawai Mimpi Utama akan memilih satu mimpi untuk dijadikan Mimpi Utama yang dibawa kepada sang Sultan. 

Mark-Alem berharap dengan bertambahnya hari, ia akan semakin mahir dalam melakukan identifikasi serta klasifikasi tumpukan arsip mimpi-mimpi di hadapannya. Namun ia justru lebih sering merasa frustasi dengan keanekaragaman mimpi yang dihadapinya. Sering kali timbul keinginan untuk langsung membuang arsip mimpi yang menjemukan ke bagian ‘Tidak Berguna’ ... namun kemudian ia kembali ragu-ragu, bagaimana jika ia salah memasukan kategori, maka dengan berbagai alternatif pilihan ‘simpang-siur’ dibenaknya, ia mencoba menentukan pilihan yang dirasa lebih cocok dan masuk akal. 

“Sebidang tanah kosong di dekat sebuah jembatan; semacam tanah kosong di mana orang membuang sampah. Di tengah-tengah sampah, debu, dan toilet yang rusak, sebuah alat musik aneh bermain sendirian hanya ditemani seekor banteng yang sepertinya kesal dengan suara itu dan berdiri di dekat jembatan lalu melenguh.”
(  ~ mimpi seorang pedagang jalanan | from ‘Istana Mimpi’ by Ismail Kadare | p. 57 )

Setelah beberapa bulan di bagian Penyortiran, tiba-tiba Mark-Alem dipanggil dan mendapatkan kenaikan status, kini ia akan bekerja di divisi Tafsir – yang berarti semakin dekat dengan posisi Pegawai Mimpi Utama, jalur yang akan membawanya ke puncak Tabir Sarrail. Alih-alih menjadi lebih lega, Mark-Alem justru mendapati sakit kepalanya bertambah. Beban yang dipikul jauh lebih besar, dan arsip-arsip di hadapannya semakin rumit dan kompleks.  Satu-satunya perhiburan yang ia rasakan ketika bisa bertemu dengan orang-orang yang bekerja di bagian lain Tabir Sarrail tersebut. 

Ia jadi mengetahui rahasia-rahasia yang terjadi di dalamnya. Bagaimana mimpi-mimpi dikumpulkan oleh para Pembawa Mimpi dari setiap penjuru negeri untuk didaftarkan ke bagian Penerimaan. Lalu adanya ruangan-ruangan yang selalu dijaga dengan ketat, disebut sebagai ruangan Pengasingan, tempat Pegawai Mimpi Utama melakukan interogasi pada para pemimpi yang mimpi-mimpinya terpilih. Semua informasi itu terserap dalam benaknya, membuat dirinya semakin tertutup terhadap orang-orang di luar Tabir Sarrail, bahkan kepada keluarganya pun Mark-Alem tak mampu berbagi rahasia ini. 

Suleiman the Magnificient ( source )
Dan pada puncaknya, saat pertemuan keluarga yang diadakan di kediaman paman tertuanya, sang Wasir – Menteri Luar Negeri dan keturunan terhormat keluarga Quprili, terjadi tragedi yang mengerikan, tragedi yang membawa kejatuhan serta awal peperangan yang akan mengusik ketenangan penduduk Albania. Mark-Alem mendapati bahwa dirinya tanpa sadar berperan besar sebagai penyebab timbulnya tragedi tersebut. Kehidupan dan masa depannya berubah total. Impian yang selama ini didam-idamkan akhirnya tercapai, ia menmperoleh jabatan tertinggi, namun betapa besar pengorbanan yang harus dilakukannya. Dan betapa semakin sepi dan sunyi hatinya melihat masa depan yang menjelang ...

Kesan :
Sebuah kisah yang dituturkan dengan kata-kata yang lugas, namun anehnya bisa mengundang makna ganda. Bagai sosok Mark-Alem yang kebingungan membaca arsip-arsip mimpi di hadapannya, diriku merasa senasib dengannya saat membaca kisah ini. Meski secara garis besar, sebuah gambaran nyata tentang maksud sang penulis mampu kuraba, namun diriku masih juga ‘berkutat’ dengan berbagai kiasan yang dipaparkan....dan berusaha menduga-duga, apakah ada makna atau tujuan lain yang hendak disampaikan ?? 

source )
Di dalam kisah ini disinggung sejarah keluarga Quprili yang berasal dari terjemahan kata ‘Ura’ dalam bahasa Albania, saat mereka masih menganut agama Kristen, berganti nama menjadi KöprĂ¼lĂ¼ menjelang masa pemerintahan Dinasti Ottoman / Dinasti Turki yang membawa  mayoritas merupakan masyarakat muslim. Jika menilik kisah yang disajikan oleh penulis, maka bisa diduga bahwa ‘pergesekan’ serta ‘perebutan’ kekuasaan di Albania bersumber dari sejarah serta kekuatan keluarga Quprili sebagai pendukung terbesar, dengan Kekhalifahan yang diperintah oleh Sultan dari garis keturunan Turki. 

Battle of Kosovo 1389 ( source )
Sejarah mencatat tragedi perang terbesar yang memusnahkan sebagian besar wilayah Balkan dan mengawali era kekuasaan yang dilakukan oleh Dinasti Turki, lewat Perang Kosovo ( 1389 ), dilanjutkan dengan serangkaian penaklukan dan penyebaran  kekuasaan di wilayah Eropa, disertai jatuhnya dinasti-dinasti besar, hingga kejatuhan Constantinople ( sekarang menjadi Istanbul – ibukota Turki ), menyusul penyerangan terhadap kekaisaran Romawi. 

Melalui Dinasti Ottoman ini dibentuk sistem pemerintahan baru yang berpusat pada Sultan sebagai pemimpin utama masyarakat. Penduduk asli Albania, yang merupakan daerah penaklukan, harus belajar mengikuti pahan serta ajaran utama sang pemimpin. Sebagaimana perlakuan rezim-rezim yang berkuasa, kebebasan adalah sebuah harga yang sangat mahal untuk dinikmati individu-individu yang lahir, besar, dan bermukin di sana. Penulis dengan cerdik menggunakan kiasan ‘mimpi-mimpi’ yang dicuri oleh pemerintah, baik mereka memberikan secara sukarela atau dengan paksaan. 

“Tugas Istana Mimpi, yang diciptakan langsung  oleh Sultan yang berkuasa, adalah mengklasifikasi dan memeriksa tidak hanya mimpi beberapa individu tertentu, tetapi ‘Tabir’ secara keseluruhan : dengan kata lain, semua mimpi dari semua rakyat tanpa pengecualian sedikit pun. Gagasan penciptaan Tabir oleh Sultan adalah Allah menyampaikan peringatan lewat mimpi-mimpi dunia ...”
( from ‘Istana Mimpi’ by Ismail Kadare | p. 19 )

'The Story Teller at coffe-house' ( source )
Maka dengan propaganda yang sangat cerdik, sang pemimpin mampu mengendalikan serta mengantisipasi terjadinya pemberontakan. Salah satu fakta yang juga diungkapkan oleh penulis bahwa peran terpenting dalam Kekhalifahan adalah divisi Tafsir Mimpi, karena di sinilah kunci-awal munculnya Mimpi Utama, meski mimpi tersebut bisa jadi merupakan hasil rekayasa yang mampu mengendalikan pemerintahan. Sekedar melengkapi rasa ingin-tahu, kucoba mencari kaitan kata ‘tafsir’ --- ternyata merujuk pada penjelasan lebih lanjut tentang isi dari Kitab Suci (dalam hal ini yang dimaksud adalah Al Qu’arn), dan yang lebih utama disebutkan syarat melakukan tafsir tidak boleh dilakukan oleh sembarang pihak melainkan oleh organisasi yang ditunjuk secara resmi ... terjemahan bebas, namun entah mengapa cocok dengan maksud sang penulis lewat kisah ini. 

Albanian Rebels vs Ottoman Empire ( source )
Dan sebelum menutup pemahamanku atas bacaan yang penuh dengan ‘tafsir’ ini, dengan rendah hati kucoba menuliskan pemikiran dari kisah ini, namun belajar dari pengalaman Mark-Alem, sebuah tafsir sederhana bisa membawa kita pada jalan yang berbeda, maka hendaklah berhati-hati dalam melakukan sebuah penafsiran, agar tidak timbul tragedi yang akan disesali. Dan sungguh bersyukur diriku bisa menikmati kehidupan yang lebih ‘bebas’ dalam menentukan kemana jalan kehidupan yang akan kutempuh. Jika Anda masih ‘membelenggu’ diri sendiri dengan berbagai keterbatasan, maka tiada bedanya dengan sosok Mark-Alem, jenjang karirnya melesat tinggi hingga ke puncak, namun tiada ‘kehidupan’ di dalam hatinya, tiada sedikit pun pemberontakan untuk kehidupan yang sama sekali baru, hanya menanti kapan salju berikutnya akan turun .... 

Tentang Penulis :
Ismail Kadare dilahirkan pada tahun 1936 di kota pegunungan Gjirokaster, di dekat perbatasan Yunani. Dia adalah penyair dan penulis novel paling terkenal di Albania. Sebelum menulis novel pertamanya, ‘The General of the Dead Army’, dia telah menulis beberapa kumpulan puisi dan cerita pendek. Dalam sebagian karyanya, dia mengisahkan sejarah Albania yang kental dengan kediktaktoran. 

Karya-karya Kadare telah menjerumuskan dirinya ke dalam sejumlah konflik dengan penguasa sejak 1945 sampai 1985. Pada 1990, dia meminta suaka politik ke Prancis dan kini membagi waktunya antara Paris dan Tirana, ibukota Albania. Pada 1992, dia mendapat penghargaan sastra internasional Prix Mondial Cino Del Duca, dan pada tahun 2005 mendapat Man Booker International Prize yang perdana atas pencapaiannya dalam dunia sastra, dan pada tahun 2009 penghargaan Prince of Asturias untuk bidang seni. Kadare telah berkali-kali dinominasikan sebagai pemenang Nobel Sastra. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam tiga puluhan bahasa.

Best Regards, 
* Hobby Buku *
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...