Translate

Showing posts with label Indonesian Literature. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Literature. Show all posts

Monday, March 31, 2014

Books "OTEBA"

Books “OTEBA”
Judul Asli : OTEBA
[ book 3 of SASKIA-KISHI-OTEBA Trilogy ]
Copyright © by Marga T.
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : 1989 ; 235 hlm (OTEBA I) | 1991 ; 260 hlm (OTEBA II)
Rate : 4 of 5

Ini adalah kisah tentang dua anak kembar, bernama Kiki dan Dudu. Keduanya sangat mirip dan sama menekuni profesi sebagai dokter, walau bidang yang mereka tekuni berbeda. Tiada yang mengetahui secara pasti, kapan mereka berdua menjadi satu kesatuan, nyaris bertukar pribadi dalam mengatasi konflik akibat trauma setelah sang ibu meninggal dunia. Dan bagaimana perilaku kedua orang tua mereka, masa-masa pendidikan dan pengasuhan semenjak kanak-kanak, juga menyimpan rahasia pelik yang terpendam dalam benak kedua bocah ini hingga mereka beranjak dewasa.

Books "KISHI"

Books “KISHI”
Judul Asli : KISHI
[ book 2 of SASKIA-KISHI-OTEBA Trilogy ]
Copyright © by Marga T.
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : Februari 2004 ; 521 hlm ; ISBN 978-979-403-139-9
Rate : 3.5 of 5

Ramon dan Kishi akhirnya menikah, dan pasangan yang saling jatuh hati sekian lama dan berhasil mengatasi aneka pertengkaran semasa kuliah, akhirnya menjalani bahtera kehidupan rumah tangga yang telah lama diidam-idamkan. Kelahiran putra pertama mereka, menambah kebahagiaan keluarga muda ini. Hingga nyawa buah hati pasangan ini direnggut dari sisi mereka untuk selamanya.

Books "SASKIA"

Books “SASKIA”
Judul Asli : SASKIA
[ book 1 of SASKIA-KISHI-OTEBA Trilogy ]
Copyright © by Marga T.
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : Februari 2004 ; 125 hlm ; ISBN 978-979-6861-85-2
Rate : 3 of 5

Saskia, gadis manis yang sedang beranjak dewasa, kini mulai mengenal kata ‘cinta’ hingga jantungnya berdebar-debar kala membayang sosok pujaan hatinya. Sebagai gadis populer di pergaulan sekolah maupun sosial, banyak cowok yang menyukai dirinya. Namun Saskia yang selalu menolak dengan alasan ingin fokus pada pelajaran, tak mampu menolak perhatian khusus yang diberikan oleh pria yang ditemuinya pada sebuah pesta. Pria ini sungguh berbeda dengan teman-teman sepergaulan, ia lebih dewasa dan matang dalam pembawaannya. Ketika pria ini meminta dirinya untuk menjadi ‘kekasihnya’ ... Saskia bagai berada di awang-awang.

Wednesday, February 26, 2014

Books "LARASATI"

Books “LARASATI”
Judul Asli : LARASATI
by Pramoedya Ananta Toer
Copyright © Pramoedya Ananta Toer 2003
Penerbit Lentera Dipantara
Desain buku : M. Bakkar Wibowo & Ong Hari Wahyu ; kulit muka : Ong Hari Wahyu
Cetakan V : Februari 2010 ; 180 hlm ; ISBN 978-979-97312-9-6
Rate : 3.5 of 5
“Kalau mati dengan berani ; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada – itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” – Pramoedya Ananta Toer
Sepanjang sejarah bangsa Indonesia, kisah-kisah tentang penjajahan serta perjuangan untuk memperoleh kebebasan demi harkat dan martabat serta kesetaraan setiap manusia, senantiasa muncul melalui keberhasilan maupun kegagalan para pemimpin hingga orang-orang yang akhirnya menjadi sosok pahlawan nasional. Pelajaran sejarah teus terang bukan hal yang kusukai semasa sekolah. Menurutku, perjalanan serta detail tanggal-tanggal peristiwa penting yang wajib dihafalkan, demi memperoleh nilai tinggi dalam laporan akhir (raport), sangat-sangat membosankan dan tidak memiliki kegunaan yang layak sebagai bekal menjalani kehidupan di masa kini.

Tuesday, December 31, 2013

Books "KAU MEMANGGILKU MALAIKAT"

Judul : Kau Memanggilku Malaikat
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit Gramedia Pustaka Utama © 2008
Desain & ilustrasi sampul : Dito Sugito
Cetakan II : April 2009 ; 272 hlm ; ISBN 978-979-22-4093-1
Rate : 2.5 of 5

Ini adalah kisah tentang sosok 'malaikat' yang bisa dikatakan memiliki tugas mendampingi manusia-manusia yang sedang menjelang ajal. Sebagian menyebutnya sebagai Malaikat Pencabuk Nyawa, namun "ia" menyatakan diri sebagai pendamping untuk menemani makhluk fana dalam persiapan menujua dunia yang berbeda.

Sosok ini tidak memiliki wujud tertentu, namun kehadirannya mampu dirasakan oleh sebagian besar mereka yang sekarat dan meregang nyawa. Bahkan bagi mereka yang memiliki hati dan pandangan tulus, mampu bercakapcakap dan berdiskusi layaknya bertemu dengan kenalan lama, membicarakan apa saja yang dikehendaki sembari menunggu 'saat' yang tepat untuk berangkat...

Tuesday, December 3, 2013

Books "INGINKU"

Judul Asli : INGINKU
Copyright © 2012 by Sienta Sasika Novel
Penerbit Bukune
Editor : Widyawati Oktavia
Proofreader : Rayina
Lay-out : Erina Puspitasari
Desain sampul : Bintang Mahacakrie
Cetakan I : September 2012 ; 254 hlm ; ISBN 602-220-077-6
Rate : (unrated)

Bagaimana jika Anda menemui suatu kisah yang ternyata di luar ekspektasi dan memberikan kejutan di sana-sini ? Inilah yang terjadi pada diriku, dimana sepanjang kisahnya, berjalan menuju ke arah yang sama sekali tak kuduga sebelumnya.

Dibuka dengan adegan sosok wanita yang kembali ke kota kelahirannya setelah bertahun-tahun menghilang, melarikan diri dari masa lalu yang menyakitkan, hingga tiba waktunya untuk ia kembali berhadapan dengan hantu-hantu yang selalu membayangi dirinya ...

Kematian orang-orang yang dikasihinya, memaksa dirinya untuk menghilang tanpa jejak, meninggalkan kerabat, kenalan dan teman yang mengenalnya semenjak kanak-kanak. Tanpa seorang pun tahu, ia telah menjalani kehidupan baru yang justru menambah beban berat dalam kehidupannya.

Tuesday, September 10, 2013

Books "MY CUP OF TEA"

ARISANKLUBBUKU #1
Judul Asli : MY CUP OF TEA
Penulis : Nia Nurdiansyah
Penerbit GagasMedia
Editor : Jia Effendie
Proofreader : Mia
Penata Letak : Wahyu Suwarni
Desain Sampul : Dwi Anissa Anindhika
Ilustrasi Isi : Fajar Ramayel
Cetakan I : 2013 ; 354 hlm ; ISBN 979-780-632-4
Rate : 2,5 of 5

Ini adalah buku pertama hasil Arisan Klub Buku yang disponsori oleh Penerbit GagasMedia. Melihat tampilan luarnya (khusus desain sampul penerbit yang satu ini memang patut diacungi jempol) yang cukup mengundang, maka tebakan pertamaku kisah ini berkaitan dengan topik kuliner yang kebetulan juga salah satu kegemaranku (^_^). Ok tanpa berlama-lama sembari ‘menitikkan-liur’ karena membayangkan isi buku yang mengupas tentang topik ‘makanan’ inilah kisahnya ....

Sherren dan Dwipa Putra atau yang akrab dipanggil Dipi, menjadi sahabat karib semenjak keluarga Dipi pindah sebagai penghuni baru di kawasan tempat tinggal mereka. Kala itu Dipi baru duduk di bangku kelas 3 SD sedangkan Shereen sudah di kelas 6 SD. Namun perbedaan usia tidak menghalangi keduanya bermain bersama. Shereen bahkan acapkali berperan sebagai kakak yang selalu mengkhawatirkan dan berusaha melindungi Dipi dari segala macam gangguan. Hingga keduanya beranjak dewasa dan menempuh jalan hidup masing-masing.

Books "ALL YOU CAN EAT"

KADOUNTUKBLOGGER #7
Judul Asli : ALL YOU CAN EAT
Penulis : Christian Simamora
Penerbit GagasMedia
Editor : Alit Trisna Palupi
Proofreader : Mita M. Supardi
Penata Letak : Gita Ramayudha
Desain Sampul : Jeffri Fernando
Ilustrasi Isi & Paper Doll : Levina Lesmana
Cetakan I : 2013 ; 460 hlm ; ISBN 979-780-643-x
Rate : 4 of 5

Nah, ini salah satu buku rekomendasi dari kang Ijul yang dengan ‘ruda-paksa’ ku-mintai bantuan saat harus memilih 10 buku pilihan dari penerbit GagasMedia yang notabene daftarnya membuatku ‘melotot’ saat menyadari pilihannya mayoritas novel romance karya asli .... (not my favorite subject of reading). So, ketika kutanya apa ‘keistimewaan’ novel ini ? Jawabannya : buku ini penuh dengan ‘ungkapan indah’ berupa kalimat maki-makian yang bikin heboh ... tanpa berpikir panjang, masuklah buku ini dalam daftar permintaanku, at least jika harus bertahan dengan kisah romansa yang mendayu-dayu bikin terharu hingga membiru (akibat tahan nafas saking bosannya) maka harus ada minimal 1 bacaan yang bisa membuat mataku terbuka dan syukur-syukur bikin tertawa (^_^)

Wednesday, August 28, 2013

Books "RONGGENG DUKUH PARUK"

Judul Asli : RONGGENG DUKUH PARUK
Copyright © by Ahmad Tohari
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cover by Mendiola Design | photos by Eriek Juragan
Cetakan VII : November 2011 ; 408 hlm
Rate : 3,5 of 5
~ Re-Blogged from My Asian's Literature ~

Dukuh Paruk yang terdiri dari 23 rumah merupakan kawasan pemukiman yang kecil dan tersendiri, jauh dari kawasan pemukiman lainnya. Para penghuninya merupakan keturunan dari Ki Secamenggala – moyang yang pernah menanamkan ‘namanya’ dalam sejarah sebagai pelarian bromocorah yang sengaja mencari tempat terpencil untuk menyepi dan menghabiskan sisa hidupnya. Sisa keturunan yang masih ada, bertahan hidup dengan tetap memegang adat istiadat serta aturan peninggalan leluhur mereka, termasuk tetap menyembah pemakaman Ki Secamenggala dan mempercayai ramalan bahwa suatu saat, Dukuh Paruk akan kembali meraih kejayaan seperti masa lalu melalui titisan roh indang pada calon ronggeng.
“Di pedukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah merasuk tubuhnya. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan.” [ p. 13 ]

Monday, August 26, 2013

Books "DRAMATURGI DOVIMA"

Judul Asli : DRAMATURGI DOVIMA [ Metropop ]
Penulis : Faris Rachman-Hussain
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Editor : Irna Permanasari
Ilustrasi & Desain sampul : Staven Andersen
Cetakan I : Juni 2013 ; 232 hlm
Rate : 3,5 of 5

Ini adalah sebuah kisah menarik  tentang perjuangan calon reporter yang memiliki segala kelebihan, dari kecerdasan dan keuletan, hingga nama tenar keluarga, yang justru mempersulit jenjang karirnya karena selalu dikaitkan dengan unsur ‘pamor keluarga’. Perjuangan seorang wanita muda yang memilih merintis segala sesuatu dari nol alih-alih mengikuti kemudahan akibat popularitas di dunia jurnalistik yang mampu bersikap kejam terhadap kaum minoritas ini, mengulik rasa penasaran semenjak awal kisah hingga akhir. Dengan memamdukan unsur intrik serta konflik yang melibatkan skandal politik negara hingga rahasia perselingkuhan yang mengguncang, serta cinta segitiga yang melibatkan para pelaku utama, benar-benar merupakan tampilan kisah ‘dramatikal’ yang tak pelak akan menarik minat para pembaca.

Sunday, August 11, 2013

Books "CAMAR BIRU"


KADOUNTKBLOGGER #4
Judul Asli : CAMAR BIRU
Karya Nilam Suri
Penerbit GagasMedia
Editor : Gita Romadhona & eNHa
Proofreader : Gita
Penata letak : Wahyu Suwarni
Desain sampul : Dwi Annisa Anindhika
Cetakan II : 2013 ; 280 hlm
Rate : 3,5 of 5

Ok, pertama-tama, asli diriku tidak suka karakter dalam kisah ini, dan kisahnya agak absurb jika berbicara tentang masalah Cinta. Tapi justru disinilah keunikan yang membuat kesan tersendiri bagiku setelah selesai membacanya. Satu komentarku : penulisnya benar-benar ahli dalam menuangkan konflik serta gejolak emosi dalam untaian kisah yang aneh sekaligus bikin takjub.

Kisahnya tentang persahabatan dua manusia, Adith dan Nina, yang pada suatu hari ketika sedang ‘mabuk susu Baileys’ membuat janji jika 10 tahun mendatang keduanya sama-sama belum memiliki pasangan tetap, maka mereka akan menikahi satu sama lain. Sumpah ini di-ikrarkan dengan sepasang origami burung biru yang akan disimpan sebagai pengingat masing-masing.


Books "REFRAIN"


KADOUNTUKBLOGGER #3
Judul Asli : REFRAIN – Saat Cinta Selalu Pulang
Karya Winna Efendi
Penerbit GagasMedia
Editor : Gita Romadhona
Proofreader : Christian Simamora
Penata letak : Wahyu Suwarni
Desain sampul : Jonathan Oh (edisi cover film)
Fotografi : Frans Hambali
Cetakan XVII : 2013 ; 318 hlm
Rate : 3 of 5

My comment after finished it : SWEET !!!
Dari sekian banyak kisah romansa ala remaja mulai yang gokil sampai yang (tujuannya) dibuat syahdu sampai membuat pembaca pilu sakit gigi saking gregetan (alias sebel tidak ketulungan), kali ini (akhirnya) menemukan salah satu karya yang cukup memikat, tidak pakai ‘aneh-aneh’ atau adegan berbelit-belit dan kejar-kejaran ala film Bollywood.

In short, it’s a story about Niki and Nata, hidup bertetangga dan teman semenjak kanak-kanak. Niki tipikal cewek periang dan supel, suka diperhatikan dan kadang-kadang masih manja meski sudah menginjak bangku SMA. Nata sebaliknya, super cuek (kecuali hal-hal yang berkaitan dengan Niki), flamboyan jika menyangkut musik, tidak terlalu suka yang aneh-aneh apalagi menonjolkan diri. Dengan sifat dan karakter yang agak berbeda satu sama lain, keduanya justru klop dan cocok satu sama lain. Terutama karena jauh di dalam lubuk hati Nata, ia sangat sayang sama Niki meski cewek yang satu ini suka bikin repot.


Wednesday, March 27, 2013

Books "GADIS PANTAI"



Judul Asli : GADIS PANTAI
Copyright © by Pramoedya Ananta Toer 2003
Penerbit Lentera Dipantara
Desain sampul : Tugas Suprianto
Cetakan VII : September 2011 ; 272 hlm 

Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris.Detik itu ia tahu : kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup. [ p. 12 ]

Gadis Pantai berusia 14 tahun ketika ia diambil sebagai selir seorang pembesar Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Semua penduduk desa nelayan menganggapnya beruntung karena terpilih dari sekian banyak gadis-gadis kalangan bangsawan. Namun Gadis Pantai ketakutan dan tak menyukai bahwa ia harus hidup terpisah dari keluarganya, karena kaum ningrat tidak boleh hidup berdampingan dengan golongan rakyat jelata. Hidup dalam gelimang harta benda serta tak boleh lagi bekerja agar kulitnya yang kuning langsat semakin putih dan halus, segala sesuatu disiapkan oleh para pelayan, bisa memperoleh apa pun yang diinginkan, itu adalah Impian setiap orang, maka sungguh bodoh jika menolak rejeki di depan mata – demikianlah pandangan umum.

“Perempuan ini diciptakan ke bumi, Mas Nganten, barangkali memang buat dipukul lelaki. Karena itu jangan bicarakan itu, Mas Nganten. Pukulan itu apalah artinya kalau dibandingkan dengan segala usahanya buat bininya, buat anak-anaknya.” [ p. 95 ]



Namun realita kehidupan sungguh sangat berbeda. Pernikahan yang terjadi bukanlah suatu ‘pernikahan’ antara pria dan wanita yang saling mengasihi dan berjanji sehidup-semati. Gadis Pantai hanyalah alat untuk memenuhi tujuan Bendoro Agung, dan jika tujuan itu telah tercapai maka ia akan dipindahkan ke tempat lain, demikian pula jika terjadi kegagalan, maka ia akan dikembalikan ke pihak keluarganya. Gadis Pantai yang cantik dan ceria, harus merubah seluruh kebiasaan serta pola pikir mengikuti aturan serta tata krama kaum ningrat. Yang menyakitkan bukan hanya proses pembelajaran yang sulit, melainkan perlakuan serta pandangan para penghuni kediaman Bendoro. Kerabat Bendoro memandang rendah dirinya, meski kini ia dipanggil Bendoro Putri, tetapi asalnya tetap gadis dusun yang bodoh. Sedangkan para pelayan sebagian besar iri dan dengki melihat salah satu anggota miskin mampu naik ke posisi terhormat.

“mBok apa yang salah pada diriku?”
“Salah Mas Nganten seperti salah sahaya, salah kita, berasal dari orang kebanyakan. Kita sudah ditakdirkan oleh yang kita puji dan kita sembah buat jadi pasangan orang atasan. Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.”
“Aku ini, mBok, aku ini orang apa? Rendahan? Atasan?”
“Rendahan Mas Nganten, maafkan sahaya, tapi menumpang di tempat atasan.” [ p. 99 ]

Gadis Pantai kesepian dan ketakutan, hanya ada satu orang yang cukup perhatian dan mengasihinya, bujang pelayan yang dengan setia mendampingi serta memberi petunjuk bagaiman ia harus melakukan tugasnya sebagai Bendoro Putri. Hingga suatu saat, terjadi peristiwa yang menyebabkan pertengkaran dan konfrontasi antara Gadis Pantai dan kerabat Bendoro. Sebuah pencurian. Siapa yang telah melakukannya ? Pasti bukan orang luar karena terjadi di dalam kamar Bendoro Putri. Namun bagaimana Gadis Pantai mampu melawan ‘konspirasi’ yang dibuat untuk menyingkirkan dirinya ? Satu-satu orang yang berani berkata tentang kebenaran, membela dirinya, akhirny disingkirkan jauh-jauh, tak pernah lagi ia jumpai. Seorang diri, Gadis Pantai atau Bendoro Putri, tertatih-tatih menemukan jalan keluar setiap hari dalam kehidupannya, berusaha mencari kebahagiaan yang sedikit demi sedikit direnggut oleh kehidupan kaum ningrat. Ia harus waspada karena ‘musuh dalam selimut’ berada di sekelilingnya.

“Kelahiran sahaya sudah satu hukuman! Ia meradang – apakah dosa suatu kelahiran di tengah-tengah orang kebanyakan? Mengapa? Pelayan itu telah pergi. Kini ia harus berpikir sendiri. Dan dalam usia tidak lebih dari 16 tahun. Ia mengerti semua itu dengan perasaannya, dengan tubuhnya, dengan jantungnya.” [ p. 133 ]

Sebuah kisah yang cukup sederhana tentang perbedaan derajat dan jenjang sosial antara kaum miskin dan kaum bangsawan di kehidupan masyarakat Jawa. Sebagai keturunan bangsawan atau ningrat, acapkali mereka dianggap memiliki kelebihan – berdarah biru, yang berarti tidak boleh bercampur dengan golongan rakyat jelata. Gadis Pantai, adalah sosok yang memiliki perbedaan, dikarunia paras yang cantik dan menawan, ia bagaikan berlian di tengah kehidupan nelayan miskin, yang bersinar terang hidup dengan penuh kegembiraan di tengah kesulitan dan tantangan kehidupan. Seorang pembesar berniat ‘mengambil’ berlian itu untuk disimpan dalam kotak tertutup. Tiba-tiba sinar terang yang cemerlang itu semakin lama semakin redup, meski dirawat, dibersihkan dan diletakkan dalam perlindungan kotak yang mewah. Bagi Gadis Pantai, kerasnya kehidupan sebagai nelayan miskin lebih kuat ia tanggung daripada kehidupan mewah yang terkukung di dalam ‘kotak-besar’ kediaman sang pembesar. 

Bukan hanya kebebasannya dirampas, harkat serta martabat dirinya sebagai seorang wanita, sebagai manusia yang sederajat, direndahkan dan diinjak-injak hari demi hari. Jika pertama kali ia masuk sebagai gadis lugu yang bodoh, perlahan ia mulai memahami bahwa perbedaan antara yang terlahir sebagai rakyat jelata dan terlahir sebagai kaum ningrat, tak akan mampu dijembatani. Hati nuraninya berontak keras, meski ia tidak mampu membaca atau menulis, tapi ia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Akan tetapi hukum serta tata krama mengikat dirinya untuk ‘mengeluarkan-suara-kebenaran’ – ia berada di tengah-tengah, terjepit antara kaum jelata dengan kaum ningrat, karena statusnya tidak diakui di kedua belah pihak. Dan yang lebih mengerikan, kaum wanita seperti dirinya, hanya merupakan komoditas – sarana bagi kaum pria, terutama bangsawan untuk memperoleh keturunan. Setelah melahirkan, ia akan ‘dibuang’ dan anaknya akan dirampas sebagai bagian dari keluarga bangsawan. Bahkan sapi perah masih lebih diakui keberadaannya daripada wanita-wanita seperti ini. 

Pram menuliskan kisah ini sebagai dedikasi atas perjuangan kehidupan sang nenek yang dikasihinya. Figur nenek yang berjuang demi kelangsunga kehidupan keluarganya, membanting tulang mencari nafkah dengan segala cara yang diangggap halal, merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang meninggalkan jejak dalam di hati Pram. Dan sorotan keras terhadap gaya kehidupan feodal bangsawan Jawa, mewarnai setiap dialog dan argumentasi dalam kisah ini. Dengan gaya narasi yang acapkali digambarkan sebagai jeritan hati Gadis Pantai, kita dibawa menelusuri kehidupan mewah di balik tembok tinggi menjulang dan tertutup. Meski disana-sini beliau menggunakan bahasa daerah, namun nampak suatu kehalusan tutur kata serta budi pekerti lewat sosok sederhana Gadis Pantai dan pelayan setianya. 

Yang patut disayangkan, ksaih yang merupakan trilogi ini, sempat lenyap-hilang tanpa bekas akibat larangan pemerintah dan vandalisme Angkatan Darat pada era tahun 60-an. Dan hanya bagian pertama dari trilogi ini yang berhasil diselamatkan oleh Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra, melalui dokumentasi Savitri P.Scherer – seorang mahasiswi yang mengambil tesis seputar proses penulisan Pram. Bagaimana kehidupan Gadis Pantai setelah dibuang oleh kaum bangsawan, tak mampu kembali ke dunia keluarganya, meninggalkan anak yang telah dikandung dan dilahirkan dengan susah payah, kemudian dirampas dan disembunyikan dalam tembok tinggi tertutup ? Tanpa dapat mengetahui secara pasti kelanjutan kisahnya, diriku yang baru pertama kali membaca karya Pram ini, tak meragukan bahwa apa pun yang terjadi, tulisan Pram akan menimbulkan jejak yang dalam di benak pembacanya – salah satunya adalah diriku. 

[ more about the author and related works, visit at here : Pramoedya Ananta Toer ]

Best Regards,

Books "GADIS KRETEK"



Judul Asli : GADIS KRETEK
Penulis : Ratih Kumala
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Editor : Mirna Yulistianti
Desain & Ilustrasi Isi : Iksaka Banu
Cetakan I : Maret 2012 ; 276 hlm 

Awal Maret kemarin salah seorang teman menunjukkan sebuah ‘cover’ sampul buku yang akan rilis, sekilas kukira kisah tentang Ibu Kartini (maklum dari hanya melihat sekilas), karena suka dengan kisah sejarah, maka ku-iyakan saja pre-order buku ini. Dan ternyata saat menerima bukunya, lho judulnya “Gadis Kretek” ...berarti pasti tentang rokok – sesuatu yang sangat tidak aku sukai. Tetapi ada pepatah mengatakan ‘don’t judge by its cover’ atau ‘jangan menilai hanya berdasarkan tampilan luarnya’, selidiki dahulu kebenaran isinya, maka setelah sekian bulan terlupakan, kuraih buku ini dan memulai kisahnya ...

Ternyata sangat menarik !!! Walau tidak pada awal-awal kisah, justru menjelang separuh buku, kisah tentang pergulatan dan perjuangan hidup manusia dengan menggunakan latar belakang budaya serta sejarah bangsa Indonesia, semakin mencekam dengan ketegangan sekaligus pembelajaran --- setidaknya diriku belajar tentang hal-hal baru, tentang sejarah pembuatan rokok, walau produknya tak kusukai secara pribadi, tapi proses yang dilakukan pasti ‘mengundang selera’ kebanyakan orang untuk menyimak lebih dalam. 


Kisah yang dibuka dengan kondisi Bp. Soeraja – pemilik Rokok Kretek Djagad Raja yang terkenal, beliau sakit keras dan boleh dikatakan ‘tinggal-menunggu-waktu’. Maka tak heran jika ketiga putranya Tegar, Karim dan Lebas segara dipanggil menengok sang ayah. Ternyata selain kesakitan, beliau juga ‘menderita’ sesuatu, karena beberapa kali mengigau, menyebut nama seorang wanita yang dipanggilnya Jeng Yah. Anehnya tiada yang mengetahui siapa wanita yang disebut-sebut dalam kondisi setengah sadar itu. Maka demi membantu ‘kelancaran-perjalanan’ sang ayah yang bersiap-siap berangkat ke ‘tempat lain’ – ketiga putranya sepakat untuk mencari tahu siapakah Jeng Yah sebenarnya.

Berbekal sedikit petunjuk dari sang ayah, Lebas – putra ketiga berangkat terlebih dahulu menuju kota Kudus, tempat dimana Jeng Yah berasal. Disusul kemudian oleh kedua kakaknya, para putra serta pewaris Rokok Kretek Djagad Raya ini menelusuri jejak keberadaan Jeng Yah yang ternyata terkait dengan sejarah perusahaan rokok di masa lalu. Tanpa menyadari bahwa perjalanan mereka justru akan menguak sebuah rahasia kelam yang disembunyikan sekian tahun, demi ketamakan serta perebutan kekuasaan, pengkhianatan serta penipuan dilakukan, meninggalkan banyak korban.

Jika ada yang mengatakan pelajaran sejarah adalah sebuah topik yang membosankan, maka kemungkinan sang guru sejarah bisa ‘belajar’ melalui sang penulis, karena alih-alih bosan dan jenuh, diriku tenggelam dalam penggambaran kehidupan para pembuat rokok kretek, mulai dari proses awal seperti pengeringan, pemberian ‘bumbu’ (ya benar, rokok yang ‘sedap’ harus diracik dan dibumbui dengan bumbu-bumbu tertentu), bahkan dilinting (digulung dengan tangan) dan dilem dengan ludah, ternyata membuat sebuah rokok lebih ‘special’ dan bisa berharga mahal. Bayangkan !! Penulis bahkan bisa memasukkan unsur-unsur kepercayaan pada jaman dahulu, seperti kelahiran bayi oleh bidan khusus dan harus ditunggui ari-arinya selama beberapa hari. 

Dan ini dipadu dengan fakta sejarah mulai era penjajahan Belanda, masuknya Jepang hingga menjelang Kemerdekaan RI serta permberontakan G30S PKI. Ouww .... bagaikan memasuki dunia yang berbeda. Apalagi saat kisah perjalanan Dasiyah – anak gadis Idroes Moeria, yang merupakan pengusaha pelopor pembuatan pabrik kretek terbesar pada jaman itu. Sedemikian menariknya kisah di masa lampau ini, membuat diriku sedikit kecewa setiap saat penulis ‘menarik’ diriku kembali ke masa kini, kembali pada perjalanan ketiga putra Soeraja. Malahan jika diperbolehkan mengganti ‘channel’seperti saat menonton televisi, maka diriku akan menetap dan melihat khusus kisah perjalanan cikal-bakal serta keturunan keluarga Dasiyah (^_^)

Sebelum menutup kisah yang menakjubkan ini, ada satu hal lagi yang membuatku sangat suka dengan “Gadis Kretek” --- ilustrasi yang dibuat oleh Iksaka Banu sungguh-sungguh sangat bagus, beliau mampu menangkap maksud penulis dan membuat desain yang tepat dengan tema dan tujuan kisah ini. Dengan warna dominan kecoklatan, mengingatkan kesan tempo dulu, mulai dari sampul depan hingga ilustrasi isi hitam-putih, sungguh, diriku sebagai pembaca sangat ‘dimanja’ dengan berbagai sentuhan yang terkemas dalam novel ini. Terima kasih atas terciptanya suatu karya seni serta kolaborasi yang menarik untuk disimak lebih lanjut, jika ada kesempatan akan karya lain di kemudian hari ... 

Tentang Penulis :
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Ia telah menerbitkan beberapa karya fiksi, di antaranya Tabula Rasa (novel, 2004), Genesis (novel, 2005), Larutan Senja (kumpulan cerpen, 2006), dan Kronik Betawi (novel, 2009). Gadis Kretek adalah karyanya yang ke-5. Jika Kronik Betawi ide dasarnya diambil dari akar keluarga almarhum papahnya, maka Gadis Kretek diambil dari akar keluarga mamahnya. Tak hanya fiksi, ia juga menulis skenario untuk televisi. Ia tak pernah alpa percaya bahwa dirinya adalah penulis profesional yang bisa menulis (dan mempelajari) genre tulisan apa pun. Kini Ratih hidup di Jakarta bersama suaminya yang juga penulis, Eka Kurniawan, serta putri mereka, Kidung Kinanti Kurniawan. Ia bisa dikunjungi di Situs Ratih Kumala dan sapa ia di akun twitter @ratihkumala

Best Regards,

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...